Bosan Sering Berbuat Salah dan Minta Maaf, Rakyat Jakarta Inginkan Pemimpin Baru

Betul, bahwa jika ada hama pada tanaman padi, maka hama itulah yang harus dibasmi, bukan seluruh tanaman padinya yang diberangus dan dibabat habis. Tapi pertanyaannya, bagaimana jika hama tersebut terlalu banyak, dibasmi berkali-kali tetap saja menjalar, sehingga membuat tanaman padi rusak, dan menghasilkan kualitas beras yang kriput, krempeng, dan tak laku bila di jual di pasaran? Jawaban satu-satunya adalah, “sebelum terlambat, berantaslah semua tanaman padi tersebut, ganti bibit tanaman yang baru, dan tanam lah bibit padi baru itu.” Mungkin ada yang salah dengan cara, tekhnik, atau strateginya ketika menanam.

Lantas bagaimana dengan Ahok? Lha, kenapa jadi ngomongin Ahok?.

Oke, jadi begini. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kesalahan itu adalah hal yang wajar. Tapi tidak bisa dikategorikan wajar, bila kesalahan itu terjadi berkali-kali. Nah, kesalahan yang terjadi berkali-kali ini lah erat kaitannya dengan Ahok. Apa itu? oke, akan saya paparkan satu persatu.

Pertama, jika anda gemar mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna, maka dapat dipastikan memori otak anda segar dan jernih dalam mengingat suatu peristiwa. Termasuk peristiwa perseteruan sengit antara Ahok dan BPK. Perseteruan tersebut terjadi, ketika BPK menemukan beberapa penyimpangan pada pembeliaan lahan Rumah Sakit Sumber Waras (RSSW) yang dilakukan Pemprov DKI. Dari hasil pemeriksaan tersebut, BPK akhirnya menyatakan pembelian lahan RSSW, merugikan negara sebesar 191 Miliar rupiah.

Menanggapi hasil temuan BPK, Ahok langsung marah-marah, mengumpat BPK dengan kata “Ngaco.” Tak hanya itu, sebelumnya, ketika diperiksa BPK, Ahok menolak untuk direkam BPK dan lagi-lagi dia marah-marah.

Setelah marah-marah, dan ngatain BPK ngaco, Ahok tiba-tiba minta maaf karena telah su’dzon terhadap BPK. Mengira tim auditor BPK yang memeriksa Ahok tersebut dari BPK DKI, padahal mereka adalah tim auditor dari BPK pusat.

Kedua, masih ingatkah anda dengan peristiwa yang menggemparkan jagat nusantara akibat ulah (baca: mulut) Ahok? Apalagi perstiwa tersebut, kalau bukan penistaan agama yang dilakukan Ahok di Kepulauan Seribu. Dampak dari ulah Ahok tersebut, demo terjadi hingga berjilid-jilid.

Lagi-lagi setelah dengan seenaknya berkampanye, dan mengutip ayat al-Qur’an, padahal acara tersebut dalam rangka peresmian budi daya ikan kerapuh, Ahok kembali minta maaf  karena telah menyinggung perasaan jutaan umat Islam.

Ketiga, ini baru saja terjadi, dan kejadian ini bukan main-main. Ahok telah menyinggung perasaan jutaan warga Nahdiyyin. Bagaimana tidak, Rais ‘Am ormas Islam terbesar yang sekaligus menjabat sebagai Ketua MUI, dipermalukan Ahok di ruang persidangan. Padahal, dengan hadirnya KH. Ma’ruf Amin di persidangan saja, sudah merupakan suatu kehormatan. Eh, setelah bela-belain datang menjadi saksi ahli di persidangan, tiba-tiba dipermalukan.

Marah lah semua warga NU. Banser mengecam atas perlakuan Ahok tersebut, dan mereka menyatakan siap melawan. Tak hanya Banser, Ketua Umum PBNU Kiyai Said Aqil Siradj pun ikut berkomentar dan menegaskan bahwa tindakan Ahok tersebut merupakan tindakan yang salah. Menurutnya, tindakan tersebut akan merugikan Ahok sendiri. Warga NU di Jakarta tidak akan memilihnya.

Dan, songongnya, sudah tau bersalah, tidak menghormati sesepuh NU, masih gak mau minta maaf. Disini lah sikap dan karakter Ahok yang sebenarnya terlihat. Selain bermulut kasar, sifat dan karakter egois Ahok sudah menggerogoti tubuhnya. Karakter ini adalah penyakit, dan sudah stadium 4. Yang namanya karekter, akan sulit dirubah, dan tidak dapat disembuhkan.

Karakter egois Ahok baru luluh (bukan sembuh) setelah banyak menerima desakan dari masyarakat, terutama terutama warga dan tokoh-tokoh NU. Itu pun, permintaan maaf Ahok dilakukan dengan cara songong pula. Bukannya menemui Kiyai Ma’ruf, datang ke kediaman beliau dan minta maaf. Permintaan maaf Ahok hanya disampaikan melalui youtube. Tinggal cekrek, action, upload, selesai urusan. Sungguh, benar-benar tak beradab menurut saya.

Keempat, masih ingatkah anda dengan pernyataan songong Ahok terkait banjir di Jakarta? Dengan congkaknya ia menyatakan SMA 8 Bukit Duri tidak akan bajir lagi.

Tapi apa faktanya? Rabu, 15 Februari 2017, Jakarta diguyur hujan. Hanya 9 jam hujan terjadi, SMA 8 Bukit Duri langsung kelelep.

Masih belum bosan, lagi lagi dan lagi Ahok minta maaf. Ahok ngeles, karena terlalu sering berkampanye, sibuk dengan urusan Pilkada, sehingga membuatnya tak fokus mengurus Jakarta, termasuk ngurus banjir.

Melihat seringnya Ahok meminta maaf, maka sangat lah wajar bila Wakil Presiden Jusuf Kalla ikut geram dengan prilaku Ahok tersebut. “Jangan setiap bulan minta maaf kepada publik (untuk) hal yang sama,” kata Pak JK.

Gimana? Sudah jelas paparannya?. Oke, Fiks, Ya?!

Kembali ke pernyataan di awal tadi. Jika hama tanaman padi sudah terlalu banyak, diobati pun tak mempan. Maka jalan satu-satunya adalah membabat habis padi tersebut, dan menanam kembali, diganti dengan bibit baru yang lebih baik.

Sama halnya dengan Ahok. Sudah berkali-kali berbuat kesalahan, dan seringkali meminta maaf, tapi kesalahan tersebut masih saja dilakukan. Maka jalan satu-satunya adalah, Gubernur DKI Jakarta harus diganti yang baru. Dikit-dikit minta maaf, dikit-minta maaf. Gitu aja terus sampe pesawahan padi di Karawang ditumbuhi coco crunch.

 

Syaiful Anam, M. Pd.

Penulis adalah penggas dan pendiri Gerakan Jakarta Baru (GJB)

 

Related posts

Leave a Reply