Cara Maafkan Ahok yang Sering Minta Maaf

NetizenIndonesia.com, Jakarta – Kita menyaksikan hukum di negeri ini tumpul ke atas, tajam ke bawah. Hukum dijadikan alat oleh penguasa untuk memukul lawan yang dianggap bersebrangan. Maka jangan heran jika hukum kita tumpul kepada kroni dan teman.

Masih ingat kasus Sumber Waras?

Kasus Sumber Waras membuat lembaga negara sekelas BPK di hujat di bully habis habisan karena mengusik singgasana Ahok. Perseteruan antara Ahok dan BPK bermula ketika BPK menemukan penyimpangan pada pembeliaan lahan Rumah Sakit Sumber Waras (RSSW) yang dilakukan Pemprov DKI. Tidak tanggung-tanggung, BPK menemukan kerugian Negara mencapai 191 Miliar.

Dari temuan BPK tersebut Ahok langsung ngamuk dan mengatakan kalau BPK “Ngaco.”

Bayangkan saja, sebuah lembaga Negara yang mendapat tugas dan wewenang dari amanat Undang-Undang dikatakan ngaco oleh seorang Gubernur. Ini lembaga lho yah bukan pribadi. Yang dikatakan ngaco oleh Ahok adalah Suatu lembaga negara. Mantap Jiwa.

Anehnya, setelah memaki-maki BPK, Ahok tiba-tiba minta maaf  . Enak benar pnguasa DKI ini, setelah mencaci maki kemudian minta maaf seolah tidak terjadi apa-apa. Bisa tidak tuduhan dari mulut kotornya dihapus dari jejak publik.

Lain Keledai lain Ahok, tapi keduanya memiliki kesamaan. Lagi-lagi keledai jatuh ke lubang yang sama, eh bukan keledai, tapi Ahok. Ahok kambuh dan menyudutkan Rois Am PBNU KH Ma’ruf Amin.

Setelah jatuh seperti keledai, setelah Ahok menyudutkan KH Ma’ruf Amin, Luhut Binsar panjaitan sebagai Menko Maritim berkunjung ke kediaman KH Ma’ruf Amin ditemani 2 Jendral. Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. Kenapa setelah Ahok mengancam Kiai banyak pihak yang mendadak jadi nahdiyin, bahkan Ahok mampu mengutus 3 Jenderal untuk minta maaf ke KH Ma’ruf Amin.

Sesibuk apa Ahok yang tiap hari bisa berkunjung ke rumah lembang tapi untuk minta maaf saja dia tidak berani. Terang-terangan kau memfitnah Kyai kami dan sekarang kau melemparkan tuduhan itu kepada kuasa hukum yang kau bayar.

Hanya karena ulah satu orang negara ini tidak pernah tenang, hanya karena mulutnya yang tidak tahu aturan, kegaduhan muncul silih berganti. Jika hukum tidak bisa segera ditegakan secara adil jangan harap Negara ini damai seperti sedia kala. Ahok ibarat duri yang menancap di tubuh manusia. Ia harus di cabut dan dibuang, kalau tidak tubuh itu akan terus merasa sakit.

Saat ini warga Nahdiyin yang konsisten menjaga kebhinekaan dan persatuan semakin geram dengan ulah Ahok. Pimpinan pusat GP Ansor menyatakan “GP Ansor tidak akan tinggal diam dan dengan ini menyatakan siap mendampingi dan membela Kyai Ma’ruf Amin,sebagai pimpinan tertinggi kami, secara lahir dan batin dalam koridor hukum, dan menyerukan seluruh kader Ansor dan Banser untuk siaga satu komando”.

Baru menjadi gubernur yang di back up penguasa saja sudah songongnya minta ampun, sengaknya tidak terkira, merasa paling benar, menghabisi semua yang bersebrangan. Apalagi mengemban amanah yang lebih tinggi, masih mau kita dipimpin orang arogan macam Ahok. Masih mau kita melihat rakyat miskin digusur dan dicaci. Masih mau kita melihat pembangunan dengan menindas yang miskin dan menjunjung pengembang yang berharta. Camkan baik-baik nasihat dari Gus Sholah “Mungkin warga NU yang memilih Ahok harus mikir.”

Untuk kesekian kalinya mulut ahok menebar cacian dan kebencian, arogansi ahok terus memecah belah bangsa Indonesia, kepemimpinan macam apa yang nanti berjalan jika keadaan seperti itu, selamanya sampai kapanpun orang yang arogan tidak akan bisa memimpin dengan baik. Begitulah Ahok, berulang kali melakukan kesalahan yang sama, berulang kali mulut kotornya mencela dan memaki menghina. Lantas meminta maaf seolah tidak terjadi apa-apa? Maka satu-satunya cara memaafkan Ahok adalah, dengan cara tidak memilihnya, agar tidak menjadi Gubernur DKI Jakarta kembali.

Related posts

Leave a Reply