Memilih Pemimpin Dengan Filosofi Jawa

SantriIndonesia.com, Jakarta – Ditengah persaingan sengit dalam memilih calon pemimpin gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Saat ini, masyarakat merindukan sosok pemimpin yang berintegritas dan bisa mengayomi rakyatnya. Berdasarkan filosofi jawa, terdapat beberapa tipikal pemimpin ideal yaitu,

“Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala), maknanya yaitu hidup harus memberi manfaat bagi orang lain disekitar, semakin besar manfaat yang bisa diberikan tentu akan lebih baik, akan tetapi sekecil apapun manfaat yang dapat diberikan, jangan sampai menjadi orang yang meresahkan masyarakat.

3

“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”, filosofi ini menegaskan jika manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

“Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti”, artinya segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

2

“Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho”, maknanya berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, kaya tanpa didasari kebendaan.

“Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan”, filosofi ini memiliki makna agar tidak mudah sakit hati manakala musibah menimpa diri dan jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

“Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman”, artinya jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut- kejut, jangan mudah kolokan atau manja.

“Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman”, filosofi ini bermakna agar tidak terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

“Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka”, filosofi ini menegaskan agar kita tidak merasa paling pandai agar tidak salah arah dan tidak berbuat curang agar terhindar dari celaka.

“Ojo Milik Barang Kang Melok, Ojo Mangro Mundak Kendo”, artinya jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah dan Jangan berfikir mendua agar tidak lemah niat serta semangat.

“Ojo Adigang, Adigung, Adiguno”, filosofi ini mengajarkan kita untuk menjaga kelakuan atau tatakrama, tidak sombong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latarbelakang.

Itulah filosofi Jawa yang dinilai tepat dalam memilih calon pemimpin. Istilah “Manunggaling Kawulo Gusti” yang bararti bersatunya pemimpin dengan rakyatnya. Artinya hubungan pemimpin dengan rakyat adalah hubungan yang sama atau seimbang. Pemimpin membutuhkan rakyatnya, demikian pula dengan rakyat yang membutuhkan pemimpin sebagai tempat pengayoman.

Pasangan nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno dinilai memiliki kritwria yang sesuai dan tepat untuk menjadi calon pemimpin di DKI Jakarta. Hal itu dikarenakan Anies-Sandi merupakan sosok pemimpin yang peduli terhadap masyarakat kecil, bisa mengayomi, berbudi pekerti, santun dan bijaksana.

Namun demikian, masyarakat kembali diingatkan agar memilih berdasarkan hati nurani masing-masing dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang di media elektronik, cetak ataupun media sosial.

Related posts

Leave a Reply