Iklan Kampanye Ahok-Djarot Mengandung Unsur Kekerasan

NetizenIndonesia.com, Jakarta – Memasuki minggu tenang Pilkada DKI Putaran dua, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Thaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat membuat suasana kian memanas. Belum lama ini, pasangan nomor urut dua itu mengeluarkan iklan kampanye yang katanya mengusung kebinekaan, kebersamaan, dan kerukunan antar warga.

Alih-alih mengatas namakan persatuan, iklan tersebut justru banyak menuai protes dari masyarakat bahkan tokoh agama. Yang menjadi sebab kisruhnya iklan berdurasi dua menit tersebut adalah adanya kesan rasis dalam video itu.

Diceritakan seorang Ibu bersama anaknya terjebak dalam kerusuhan, terlihat para perusuh ditampilkan adegan menggunakan peci, baju koko dan bersorban dengan spanduk bertuliskan “Ganyang Cina”. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan efek visual yang sungguh mencekam dan menakutkan.

Tak hanya itu, entah disengaja atau tidak, iklan kampanye tersebut seolah menggambarkan bahwa umat Islam adalah perusuh, teroris dan anti-Cina. Sedangkan etnis Cina sangat nasionalis, mereka terlihat menggunakan kaos olahraga merah dengan nama tertera Indonesia di punggungnya. Di bagian akhir mereka menjadi sosok pahlawan lewat kejuaraan bulu tangkis. Entah mengapa pada akhirnya terlihat dibuat satu sisi perusuh dan sisi lainnya adalah pahlawan.

Sebagian besar masyarakat mungkin bertanya-tanya apa maksud dan pesan yang ingin disampaikan dari iklan kampanye tersebut? Ataukah ingin mengulang kisah tragis di tahun 1998? Berperan layaknya korban? Tentunya hal ini perlu kita ingat, bahwa kebebasan demonstrasi yang kita rasakan saat ini adalah buah dari perjuangan bersama oleh seluruh elemen anak bangsa, baik itu pribumi atau pun bukan, termasuk tokoh dan gerakan Islam.

Penggunaan kata “Ganyang Cina” tentu terlalu berlebihan. Bak bola panas yang terus bergulir ditengah pertandingan, bukan mendapatkan simpati public, ahok justru semakin terpojokkan. Seperti diketahui, selama ini Ahok selalu mengumbar kedamaian, kebhinekaan dan Pancasila. Namun justru dialah yang terus-menerus hadirkan isu SARA.

Sungguh miris, niat hati ingin menyampaikan ‘keberagaman’ namun justru malah menyerang dan meneror keberagaman itu.

Dilain sisi, calon gubernur DKI Jakarta nomor tiga, Anies Rasyid Baswedan mengulas Kebhinnekaan dengan fakta. Ia pernah mengatakan “Bukan kebhinnekaan yang harus diperjuangkan, melainkan persatuan di dalam kebhinnekaan itu yang harus diperjuangkan.”

Related posts

Leave a Reply