DKM Masjid Al Atiq: Djarot Diusir Paksa Karena Cawagub Terdakwa Penista Agama

Kehadiran yang terkesan sembunyi-sembunyi yang dilakukan calon gubernur Djarot Syaiful Hidayat mendapat perlawanan dari warga Kampung Melayu, Tebet, Jakarta Selatan. Usai sholat Jumat di Masjid Al Atiq, waga kampung melayu kompak menolak kedatangan Djarot karena dianggap hanya ingin memprovokasi kemarahan di wilayah yang dikenal sebagai basis ulama tersebut.

“Terlihat jelas dia ingin memancing atau memprovokasi kita dengan datang secara diam-diam,” ujar Romdhoni, salah seorang ketua RT di sana. Menurut pengurus DKM Masjid Al Atiq Djarot hadir tanpa koordinasi dengan terlebih dahulu dengan pihaknya. Juga dengan pengurus RT dan RW setempat.
“Kalau untuk sholat Jumat silahkan. Tapi kami tolak jika mau kampanye dengan membawa timses dan wartawan,” ujar salah seorang pengurus DKM Masjid Al Atiq Andhika Irhamy.
Andhika salah satu pengelolah pihak amsjid menambahkan, selama ini pihak masjid selalu menghormati kedatangan tamu dan menjamu mereka dengan baik. Namun jika kehadirannya tanpa pemberitahuan dan terkesan sembunyi-sembunyi, apalagi berstatus cawagub yang mendampingi cagub penista agama, maka pengurus DKM menolaknya. “Wilayah dan masjid kami harus bersih dari orang-orang munafik,” tegas Andhika.
Usai sholat Jumat itu dirinya diusir. Djarot pun meninggalkan masjid yang terletak tepat di sisi Sungai Ciliwung itu.
Insiden pengusiran Djarot di Masjid Al Atiq, jelas menuai banyak kecaman. Menanggapi peristiwa tersebut, Cawagub Sandiaga Salahudin Uno yakin warga masyarakat akan menerima setiap Cagub-Cawagub yang berkunjung di suatu wilayah.

“Dari pengalaman saya kita kalau salat Jumat atau ke acara dalam pemilu ini, pasti sudah dikontrol, dan mengkondisikan, didaftarkan, oleh masyarakat sudah menerima,” kata Sandiaga.

Karena sudah didaftarkan dan oleh masyarakat sudah menerima, maka Sandiaga percaya jika setiap warga masyarakat menerima Cagub-Cawagub yang hadir. “Kecuali itu bagian dari strategi kampanye mereka, untuk hal seperti itu terlihat ada penolakan,” ujar Sandiaga.

Sandiaga mengaku tidak pernah menerima penolakan dari warga selama 18 bulan turun langsung ke warga. Hal ini juga karena pihaknya menjadwalkan dan mengkomunikasikan dengan baik dengan warga yang dituju.

“Karena terjadwal dan terkomunikasikan dengan baik, Alhamdulilah selalu diterima dan mestinya juga begitu Pak Djarot selalu diterima selama terkomunikasi yang baik dan sosialisasi yang baik,” pungkas Sandiaga.
Sandi juga tambahkan berdasarkan pengalamannya selama terjun di beebrapa titik dijakarta, pihaknya selalu mengkomunikasikan seluruh kegiatan kepada masyarakat setempat sebelum menggelar acara terkait kampanye.
“Dari pengalaman saya, kami kalau shalat Jumat atau ke acara dalam pemilu ini pasti sudah dikondisikan, didaftarkan oleh masyarakat,” kata Sandiaga.
Setelah dikomunikasikan, kata Sandiaga, masyarakat biasanya menerima dan tak ada reaksi penolakan dengan cara apapun.
“Kecuali itu (penolakan) bagian dari strategi kampanye mereka, bahwa terlihat ada penolakan,” kata Sandiaga yang tak menjelaskan lebih lanjut soal pihak yang dia sebut mereka.
Sandiaga mengatakan semua acara dia selama hampir 18 bulan terjadwal dan terkomunikasikan dengan baik, sehingga selalu diterima masyarakat.
“Mestinya juga begitu Pak Djarot selalu diterima selama terkomunikasi yang baik dan sosialisasi yang baik,” kata Sandiaga.

Related posts

Leave a Reply