Serangan fajar, Lebih Agresif “Kotak-kotak” Guyur Sembako ke DKI

Bagikan sembako murah seolah menjadi modus untuk dapat menarik rasa simpati ke warga DKI. Nyatanya hal itu dilakukan tim sukses pasangan calon petahannan. Di Jalan Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan beberapa orang mengenakan atribut kotak kotak, diketahui jika kegiatan mereka yaitu dengan membagi bagikan 300 paket sembako murah untuk masyarakat miskin tersebut, dihadiri anggota DPR fraksi PDIP, Imam Suroso. “Tidak kami bagikan cuma-cuma, satu paket dihargai Rp 5.000,” kata penanggung jawab acara tersebut, Rudi Prakasa.
Tak hanya membagikan sembako murah kepada warga kurang mampu yang telah diberikan kupon terlebih dahulu, Rudi mengakui ada pembagian atribut kampanye. “Juga kami berikan baju kotak-kotak,” katanya.
Praktik semacam bagi-bagi sembako, bukan trik baru. Bukan hanya warga pasar minggu, timsukses paslon Ahok-Djarot juga menyisir diberbagai titik, kali ini yang menjadi sasaran adalah masyarakat di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur. Berdasarkan laporan dan pengaduan dari masyarakat di wilayah tersebut, pembagian sembako berkedok bantuan sosial itu dilakukan sejak pagi hari disalah satu dealer motor yang ada di kawasan Kampung sumur.
Salah satu warga sebut saja NN, akui mendapatkan sembako itu. Menurutnya, hampir semua warga Kampung Sumur memperoleh sembako yang dibungkus dalam kantong plastik warna merah itu. Namun sembako tersebut tidak gratis untuk semua.
“Isinya ada macam-macam; beras, minyak, gula, tepung, susu, milo hingga rempa-rempa,”jelasnya.
Warga sangat menyayangkan praktik nakal seperti itu masih saja dilakukan. Sangat tidak patut, karena sama saja memperlakukan warga dengan politik transaksional.
“Namun saya yakin warga di kampung sumur tidak bisa lagi dikibuli dengan sebungkus sembako. Makanya sekarang itu slogan ‘Ambil Sembakonya, Jangan Pilih Orangnya’ sudah rame di masyarakat,” terangnya.
Sementara itu ditempat yang sama, Wiroh salah satu warga menyebutkan, ada warga setempat yang bertugas sebagai panitia mereka mendata warga yang akan menerima pembagian sembako yang antara lain berisi mi instan sebanyak 3 hingga 4 bungkus, beras, seliter minyak goreng, gula satu kilogram, dan sebagainya. Tak ketinggalan, buku berjudul ‘A Man Called Ahok’ dan stiker bertuliskan ‘kami memilih gubernur yang bener kerjanya’.
Tak jerah dan tak kenal lelah, tim suskes ahok-djarot terus bergerilya, kali ini coba menysir warga setiabudi, Menteng Atas, Jakarta Selatan. Warga dibuat resah dengan aksi bagi-bagi sembako diduga oleh Paslon petahanan.

“Iya, tadi (malam) warga ramai banget. Pendukungnya Ahok bagi-bagi sembako,” kata seorang warga saat ditemui TeropongSenayan, di jalan Muria Ujung, Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Meski begitu, dia sendiri mengaku tidak ikut-ikutan lantaran sembako tersebut berasal dari seorang penista agama Islam.

“Ogah mas (tidak menerima), itu kan sembako dari orang yang menista agama saya (Islam). Ini warga deretan rumah sini juga tidak ada yang mau ambil, Pak RT juga gak mau ambil (sembako). Yang ikut antre itu kan warga di belakang sini, itupun tidak semuanya ikut,” kata dia sambil mewanti-wanti agar namanya dirahasiakan.

Pria 52 tahun ini mengaku, dia bersama mayoritas warga setempat juga sudah sama-sama tahu bahwa acara tersebut sengaja dikemas dengan modus acara sosial, tetapi sejatinya untuk meningkatkan potensi keterpilihan pasangan Ahok-Djarot di wilayahnya.

“Kami warga disini sudah pada ngerti mas yang begitu-begitu (politis), sekarang kan masa kampanye. Kalau tidak ada Pilgub mana ada sembako gratis,” ungkapnya.

Warga lainnya mengungkapkan, saat acara pembagian sembako berlangsung, di lokasi tampak juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta, HM Ashraf Ali.
“Tadi ada Pak Ashraf juga, dia kan orang Golkar dapil (daerah pemilihan) sini mas. Pendukungnya Ahok itu,” katanya. Untuk diketahui, Partai Golkar merupakan salah satu partai pengusung petahana Ahok-Djarot bersama PDIP, Hanura, NasDem dan partai pendukung PPP kubu Djan Faridz.
Melihat, kecurangan petahanan makin masif tim Hukum dan Advokasi Anies-Sandi kembali melapor ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh pendukung dan relawan paslon nomor 2, Ahok-Djarot. dan Brutal. Yupen Hadi memaparkan, 3 hari jelang putaran final Pilgub DKI 2017,‎ pendukung paslon nomor 2, Ahok-Djarot kian masif dan brutal melakukan sejumlah pelanggaran Pemilukada. Setidaknya ada tiga kasus yang dinilainya merupakan pelanggaran berat yakni soal politik uang berbentuk bagi-bagi sembako.

“Laporan kami hari ini disertai bukti-bukti yang kuat. Pihak lawan sedang gencar membujuk warga dengan sembako. Mereka bagi-bagi beras, gula, minyak dan lain-lain,” kata Yupen
Sebelumnya, Bawaslu DKI Jakarta memastikan aksi bagi-bagi kebutuhan bahan pokok murah atau sembako yang digelar oleh tim sukses pasangan Ahok-Djarot melanggar ketentuan Pilkada. Ketua Bawaslu DKI Jakarta, Mimah Susanti, menyebutkan, laporan pembagian sembako itu sudah diperiksa dan telah diminta untuk dihentikan. “Namun panitia menolaknya dan terus melakukan pembagian sembako akhirnya, karena terus berlangsung kami tidak bisa menghentikan. Jadi, kami hanya mencatat sebagai sebuah pelanggaran,” kata Mimah.
Sebelumnya di jejaring sosial memang beredar sejumlah gambar yang menampilkan sejumlah orang berpakaian khas tim sukses Ahok-Djarot terlihat membawa sejumlah bantuan berupa sembako. Sejumlah orang dengan kemeja kotak-kotak ini membagikan bantuan berupa sembako murah kepada warga di Kampung Sumur Klender, Jakarta Timur.
Dalam pembagian ini, warga diminta menebus bantuan sembako dengan harga yang sangat murah. Untuk paket yang dinamai Basuki, warga cukup menebus Rp15 ribu untuk dapat menerima beras dua liter, minyak goreng satu liter dan mie instan tiga bungkus. Sementara untuk paket Djarot, dihargai Rp5.000, dengan bahan pokok yang diterima adalah beras dua liter.
Menurut Mimah, pola pembagian sembako berharga murah itu bisa menjadi modus baru calon kepala daerah untuk meraup simpati. “Salah satu modus politik uang dan bisa melanggar pasal 187a Undang-undang Pemilu,” kata Mimah.

Related posts

Leave a Reply