Perwakilan Umat Katolik Jakarta Mengusulkan Konsep Educating City Kepada Anies

Anies yang merupakan Calon Gubernur Jakarta bernomor urut 3 kembali menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana pemersatu dan pondasi lahirnya kesejahteraan di masyarakat.

 

Jakarta – Beberapa perwakilan Umat Katolik Ibukota yang terdiri dari romo, suster dan warga Katolik Jakarta siang ini memadati salah satu auditorium di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (3/12/2016). Forum yang dinamakan Sambung Rasa tersebut menghadirkan Anies Baswedan sebagai pembicara utama (keynote speech) dengan tema bhinneka tunggal ika. Anies yang merupakan Calon Gubernur Jakarta bernomor urut 3 kembali menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana pemersatu dan pondasi lahirnya kesejahteraan di masyarakat.

Forum ini kemudian dibungkus secara apik dengan adanya 3 penanggap dari latar belakang yang berbeda, yaitu Dr. Paulus Wirutomo (tokoh masyarakat), Suster Justiana (dosen dan praktisi/aktivis pendidikan) dan Hermien Kleden (jurnalis dan ahli linguistik). Ketiga orang tersebut memberikan tanggapan kepada Anies sebagai bentuk perwakilan aspirasi dari seluruh peserta forum.

Paulus misalnya memberikan tanggapan atas latar belakang Anies yang merupakan tokoh pendidikan. Ia berharap ada hal kongkrit yang dibawa Anies dalam bidang pendidikan melalui konsep educating city (kota yang mendidik) bukan sekadar educated city (kota terdidik). Paulus sendiri menyayangkan konsep pendidikan yang lebih memikirkan fasilitas, sarana-prasarana dan gedung-gedung. Namun di sisi lain, akhirnya melupakan peningkatan sumber daya manusianya.

Anies kemudian menanggapi hal tersebut dengan menceritakan bahwa Jakarta harus menjadi kota yang tidak terkukung, atau dengan kata lain kota yang terbuka. Kota inilah yang bagi Anies di dalamnya akan terjadi proses interaksi sosial. “Dan esensi pendidikan adalah interaksi antar manusia. Ada proses pembelajaran di sana,” terang Anies

Dengan pondasi demikian, Anies kemudian merumuskan kepemimpinan berbasis gerakan, bukan dengan program kerja. Kepemimpinan ini dinilai akan berusaja melibatkan seluruh konponen yang ada untuk menyelesaikan suatu permasalahan, termasuk kerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat. “Jika dengan kacamata program, maka yang terjadi adalah rakyat bayar pajak, kemdian pemerintah panggil orang mengerjakan projek yang dibiayai pajak tadi. Rakyat hanya bisa menonton. Jika hasilnya baik akan diapresiasi, sebaliknya jika hasilnya buruk akan dikritisi,” papar Anies.

Anies kemudian mencontohkan akan membuat program belajar bagi anak dari jam 7-9 malam. Program ini akan didukung dengan gerakan keterlibatan para mahasiswa dan profesional untuk mengajar anak-anak di seluruh kampung di Jakarta. Program lainnya yang direncanakan Anies adalah upaya melibatkan swasta dalam membangun wilayah di sekitarnya yang terkesan kumuh, padat dan tertinggal. “Misalnya saya akan berkata: akumulasi pengetahuan anda sebagai manajer tolong ajarkan kepada wilayah di sebelah kantor anda. Yuk, mari kita bangun dan bertanggungjawab bersama sama,” imbuh Penggagas gerakan Indonesia Mengajar ini.

Penanggap lainnya, Suster Justiana lebih mengingatkan Anies agar lebih memperhatikan sekolah-sekolah privat. “(Saya berharap) Pendidikan swasta tidak didiskriminasikan. Padahal pendidikan swasta itu telah ada sebelum kemerdekaan. Bagaimana pendidikan swasta mendapatkan tempat di masyarakat?,” tanggap Justiana kepada Anies.

Nasehat tersebut direspon Anis dengan tegas bahwa ia tidak akan membedakan antara swasta dan negeri. “Sekolah swasta akan mendapatkan perlakuan yang sama untuk pendidikan di jakarta, seperti pelatihan dan aksesbilitas yang sama,” tegas Anies. Anies menuturkan bahwa dana pendidikan di Jakarta itu sangat tinggi untuk setiap anak sehingga kesamaan akses itu sangat memungkinkan untuk terjadi.

Sedangkan, penanggap terakhir yaitu Hermien mengatakan bahwa terdapat konsep dalam Katolik yang menggambarkan kepemimpinan, yaitu pemimpin datang tidak untuk dilayani tapi untuk melayani. Sebagai balasannya, Anies kemudian menekankan bahwa dalam pandangannya, pemimpin bukan hanya melayani, tapi juga menggerakkan. “Ada yang namanya mengajar, naik dikit kita kenal mendidik, lalu akan lebih baik lagi menginspirasi. Tapi di atas itu semua adalah menggerakkan. Menggerakkan adalah Ultimate objective of leadership,” tegas mantan Rektor Paramadina tersebut.

Secara umum, forum sambung rasa sekaligus diskusi antara Anies Baswedan dan warga Katolik DKI Jakarta berlangsung sangat santai walau terkesan serius di beberapa momen. Para peserta terlihat puas dan senang dengan jawaban lugas dari Sang Calon Gubernur. Selepas acara, tak sedikit peserta yang berdiri lalu bertepuk tangan dan mengajak bersalaman. Anies sendiri mengaku senang dengan forum sambung rasa tersebut. “Saya bersyukur dan senang dapat menghadiri undangan (kegiatan) ini,” tutup Anies kepada awak media.

Related posts

Leave a Reply