Janji Kampanye Terus Diingkari, Jokowi Makin Jauhkan Indonesia dari Kata Makmur

Jakarta – Ada kado pahit dalam peringatan Hari Buruh Tahun 2017 ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dalam kampanyenya berjanji mensejahterakan masyarakat, namun pada kenyataannya justru semakin membuat hidup rakyat semakin susah dengan kembali menaikkan tarif dasar listrik.

Per 1 Mei 2017, pemerintah resmi menaikkan tarif dasar listrik untuk pelanggan 900 va yang masuk golongan ‘mampu’ sebesar 30%. Dengan adanya kenaikan ini, pelanggan pada daya 900 va terus terkena kenaikan tarif dasar listrik secara bertahap.

Kenaikan tarif pada besaran daya 900 va tercatat pernah dilakukan pemerintah pada 1 Januari 2017 dan 1 Maret 2017. Pada Januari 2017, tercatat kenaikan tarif dasar listrik dari dari Rp 605 menjadi Rp 791, sementara pada Maret 2017, harganya kembali berubah menjadi Rp 1.034 dan kali ini, harga tarif dasar listrik pada pelanggan 900 va menjadi Rp 1.352 per kwh.

Selain itu, per 1 Juli 2017 akan terdapat 13 golongan nonsubsidi yang mengalami penyesuaian tarif setiap bulan. Pelanggan rumah tangga “mampu” yang sebelumnya tergabung dalam golongan rumah tangga 900 va menjadi golongan baru, sehingga total golongan pelanggan PLN menjadi 38 dari sebelumnya 37.

Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah sudah menetapkan skema kenaikan tarif listrik secara bertahap sebanyak 3 kali untuk 18,7 juta pelanggan 900 va, melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 28 Tahun 2016 (Permen ESDM No 28/2016). Sesuai aturan itu pula, kenaikan tarif dasar listrik berlaku dua bulan sekali sejak 1 Januari 2017. Kebijakan ini bisa menjadi salah satu bukti Presiden Jokowi tak dapat menepati janji kampanyenya.

Ada beberapa janji kampanye Jokowi yang tidak ditepatinya, seperti janji untuk tidak berhutang. Usai terpilih menjadi orang nomor satu di Indonesia, Jokowi sempat menegaskan janjinya untuk tidak akan menambah hutang negara. “Ya penggunaan APBN itu secara efisien dan tepat sasaran. Tidak perlu ngutang,” ujarnya kala itu.

Namun pada kenyataannya, Jokowi malah menambah hutang Indonesia sebanyak Rp 31, 6 Triliun hanya dalam kurun waktu 6 bulan. Parahnya, ketika disinggung mengenai pembayaran hutang yang semakin menumpuk, Jokowi menjawab dengan enteng. “Kalau utang ya dibayar,” jawab Jokowi.

Contoh janji kampanye lainnya yang diingkari oleh Jokowi yaitu janji untuk tidak belanja berlebihan. “Pembekuan belanja, tidak perlu belanja terlalu over. Artinya, uang yang ada ini dibelanjakan, uang yang ada saja yang dibelanjakan,” ungkapnya beberapa waktu lalu di Balai Kota DKI Jakarta.

Di sisa masa jabatannya, masih banyak janji-janji kampanye Jokowi yang belum terealisasi. Bahkan, sebagian janji-janji manis kampanye itu diingkarinya. Kendati demikian, janji tetaplah janji. Rakyat Indonesia tidak ingin Jokowi hanya memberikan harapan palsu.

Berikut 10 janji kampanye Jokowi yang dirangkum dan diolah dari berbagai sumber:

Jokowi janji membeli kembali Indosat dari tangan asing

Jokowi janji tidak bagi-bagi kekuasaan

Jokowi janji tidak menaikkan harga BBM

Jokowi janji tidak akan ngutang lagi

Jokowi janji ciptakan 10 juta lapangan kerja baru

Jokowi janji persulit investasi asing

Jokowi janji tidak akan hapus subsidi BBM

Jokowi janji bangkitkan industri mobil nasional

Jokowi janji jaksa agung bukan dari parpol

Jokowi janji tidak impor pangan

Related posts

Leave a Reply