“Anak Emas” Jokowi Ikut Kebanjiran Karangan Bunga

Jakarta – Karangan bunga yang dikirim ke Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta, terus bertambah sejak mulai dikirimkan pada Selasa 2 mei 2017 lalu. Jumlahnya kini mencapai ribuan yang berisi tulisan-tulisan sebagai penyemangat Polri untuk melawan radikalisme.

Seperti diketahui, mayoritas karangan bunga yang terlihat memagari Mabes Polri tidak disertakan nama lengkap pengirimnya, hanya nama komunitas atau grup tertentu. Benarkah alih-alih pengiriman karangan bunga tersebut menjadi salah satu bukti support rakyat dan pemerintah karena kinerja Tito Karnavian yang militan?

Terhitung sejak 13 Juli 2016 lalu lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1987 ini resmi dilantik sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara. Hebatnya, Tito dicalonkannya secara tunggal sebagai Kapolri oleh Presiden dan digadang-gadang menjadi Kapolri termuda.

Bahkan hingga menjelang pelantikannya sebagai Kapolri, berita tentang proses pencalonan mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu masih menjadi “misteri”. Betapa tidak, sejak awal, nama Tito tidak masuk pertimbangan utama sebagai calon Kapolri. Dewan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Wanjakti) Polri pun mengaku tidak mengusulkan nama Tito. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga hanya sebatas memberi pertimbangan terhadap calon yang diusulkan.

Malah muncul sejumlah nama yang menjadi calon kuat memimpin koprs Bhayangkara tersebut, seperti Wakil Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan, Inspektur Pengawas Umum Komjen Pol Dwi Priyatno, Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Komjen Pol Putut Eko Bayuseno, Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komjen Pol Syafruddin, dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso.

Sejak itu pula kinerja Tito kerap mendapat apresiasi oleh Jokowi, pasalnya diawal kepemimpinanya sebagai Kapolri, Tito Karnavian telah melakukan perubahan besar dalam internal Polri. Belum genap sebulan memimpin, Tito sudah merotasi 13 perwira tinggi di lingkungan Polri.

Memang tak bisa dianggap sebelah mata. Semasa bertugas di kepolisian, karier Tito bisa dikatakan cukup moncer. Mulai dari kesuksesannya menangkap Tommy Soeharto dalam kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiudin, kasus teroris Doktor Azahari bin Husin serta kasus kerusahan di Poso Tito. Beberapa prestasi yang dicapai Tito ini membuat dirinya dianggap sebagai anak emas Jokowi.

Related posts

Leave a Reply