Akhirnya Ahok Masuk Penjara

Jakarta – “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya ya kan? dibohongi pakai Surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak Bapak-Ibu ya. Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan enggak bisa kepilih nih, karena saya takut masuk neraka karena dibodohin gitu ya, enggak apa-apa.”

Kalimat di atas inilah yang membawa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi pesakitan di “Hotel Prodeo”. Mantan Bupati Belitung Timur ini secara sah dinyatakan bersalah melanggar Pasal 156 KUHP dengan melakukan penodaan agama.

Majelis hakim menyebut Ahok sengaja memasukkan kalimat yang dianggap telah merendahkan dan menghina surat Al Maidah ayat 51terkait pemilihan gubernur. Hal ini juga yang kemudian membuat Ahok divonis 2 tahun penjara, meski ia kemudian mengajukan banding atas keputusan hakim tersebut.

Dari awal kasus ini menarik perhatian banyak pihak, selain melibatkan agama mayoritas yang ada di Indonesia, momentum kasus ini yang terjadi pada masa pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta.

Tak heran jika banyak orang yang mengira jika kasus ini berbau politis dan dikaitkan dengan pesta demokrasi. Apalagi, Ahok yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat akhirnya kalah dari pasangan Anies-Sandiaga dalam Pilkada DKI.

Namun, majelis hakim menegaskan, perkara Ahok tidak terkait Pilkada DKI dan merupakan perkara murni pidana.

“Perkara ini bukan terkait perkara pilkada tetapi murni perkara pidana tentang penodaan agama,” ujar hakim pada sidang di auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017).

Majelis hakim juga mengatakan terkait buku Ahok yang berjudul “Merubah Indonesia”. Di buku itu Ahok sudah menyebut surat Al Maidah terkait karir politiknya.

“Tentang pernyataan penasihat hukum yang menyatakan terdakwa dalam buku Merubah Indonesia yang diterbitkan tahun 2008 sudah menyebut surat Al Maidah ayat 51 tetapi buku itu tidak pernah dipersoalkan, sampai sekarang tidak dilarang peredarannya,” ujar hakim.

“Menurut pengadilan apa yang ditulis Ahok dalam bukunya berjudul Merubah Indonesia tidak dapat disamakan dengan perkara terjadi di Pulau Seribu,” tegas hakim.

Related posts

Leave a Reply