Karir Politik Ahok Berakhir

Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) divonis bersalah atas kasus penistaan agama. Ia harus mendekam di bui selama 2 tahun. Lantas bagaimana perjalanan karir Ahok di kancah politik Indonesia selanjutnya?

Ucapan yang menyakitkan layaknya seperti sebuah kayu dipaku. Meski paku dicabut akan meninggalkan bekas mendalam pada kayu tersebut.

Paku itu ibarat perkataan kasar yang dilontarkan hingga membuat orang terluka. Palu itu adalah kemarahan yang terlampiaskan, sedangkan kayu ibarat hati yang telah disakiti. Setelah minta maaf, paku itu di cabut dari kayu tersebut, tetapi ada bekas lubang dalam yang tertinggal pada kayu.

Gambaran tersebut ibarat hati orang yang telah disakiti, meskipun orang tersebut telah meminta maaf tetap masih akan meninggalkan luka. Oleh karena itu, pesan yang terkandung adalah janganlah engkau menyakiti hati orang lain, karena itu akan menyakitkan dan meninggalkan bekas yang lama untuk dihilangkan.

Begitu juga dengan ucapan tajam Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, meski palu hakim sudah di ketuk, ucapan Ahok kala itu tak bisa dihapuskan. Fatalnya Ahok bukannya memperbaiki keadaan justru malah beberapa kali mengulangi luka. Sehingga luka yang semula tergores pun semakin melebar, hingga bekasnya tak bisa disembunyikan.

Bukannya belajar dari kesalahan, Ahok malah terus melakukan hal-hal yang semakin menyakiti umat Islam, seperti soal fasilitas wifi di masjid dan keluarlah kata-kata username dan password tersebut. “Username wifi ‘Al Maidah 51’ dengan password ‘kafir’”, ujar Ahok dalam video tersebut.

Selain itu, sikap keras Ahok yang kasar, arogan, dan mengancam Kyai Maruf yang sangat dihormati warga NU saat dalam persidangan juga menjadi sikap yang sangat blunder.

Parahnya lagi, alih-alih mendorong persatuan, iklan kampanye pasangan Ahok-Djarot juga dinilai mendiskreditkan umat Islam dan melanggar rambu yang sangat berbahaya dan sangat eksplosif.

Dalam iklan berdurasi dua menit itu, terdapat spanduk bertuliskan “Ganyang Cina”, dengan latar depan para perusuh. Beberapa perusuh di antaranya menggunakan peci, baju koko dan bersorban. Disengaja atau tidak, iklan kampanye tersebut seolah menyatakan bahwa umat Islam adalah perusuh dan anti-Cina.

Sikapnya yang tidak bisa menjaga lisan, diyakini akan membuat partai-partai yang akan menjadi kendaraan politiknya akan sedikit “trauma” dengan kejadian ini. Ahok kadung terstempel dengan cap penista agama, tentu saja hal ini akan membuat keengganan parpol untuk mengusungnya, terutama parpol-parpol Islam. Apalagi, Ahok terkenal sebagai “pengkhianat”, seperti yang ia lakukan terhadap gerindra saat maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu.

Hal ini bisa kita lihat dari kegagalan Ahok di Pilkada DKI Jakarta 2017 tentu berimbas kepada partai politik pengusungnya, PDIP salah satunya, bahkan Ahok effect secara magic menimbulkan kekalahan telak PDIP di Pilkada 2017 serentak di 44 wilayah se-Indonesia.

Partai berlambang banteng moncong putih yang digawangi oleh Megawati Soekarnoputri otomatis ikut dicap sebagai parpol pendukung penista agama. Tak pelak hal itu semakin meredupkan kiprah PDIP di kancah politik nasional. Apalagi dalam kasus Ahok, partai-partai pengusungnya di Pilkada DKI Jakarta, termasuk PDIP, enggan meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan Ahok.

Meski Mahkamah Konstitusi telah membatalkan Pasal 7 huruf g Undang-Undang Nomor 8 tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah yang memuat ketentuan bahwa mantan narapidana dilarang ikut pilkada, sepertinya berkarir di dunia politik sudah bukan menjadi pilihan Ahok.

Selain itu, Ahok juga sudah berujar bahwa ia tidak akan lagi menduduki suatu jabatan politis usai kalah dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Related posts

Leave a Reply