Setelah Strategi Gulingkan Ahok Terbongkar, PDIP Mulai Raih Simpati Masyarakat

NetizenIndonesia.com, Jakarta – Vonis dua tahun penjara untuk Ahok membuat masyarakat khususnya para pendukung dan simpatisan Ahok sedih. Namun, di tengah kesedihan melanda, publik juga dihebohkan dengan kabar bahwa divonisnya Ahok dua tahun penjara terdapat campur tangan PDIP yang ingin mengangkat Djarot sebagai Gubernur menggantikan Ahok. Sontak pendukung dan simpatisan Ahok terkejut dan bertanya-tanya, begitu teganya PDIP, demi meraih kekuasaan sesaat yang hanya 4 bulan, mereka sampai rela dan tega menjebloskan Ahok ke penjara.

Menurut kabar tersebut, PDIP terpaksa mengorbankan Ahok menghuni jeruji besi, karena 45 kader PDIP di berbagai daerah mengalami kekalahan berjamaah pada Pilkada serentak kemarin. Selain itu, 4 bulan terhitung mulai Juni hingga Oktober, ketika Djarot resmi menjadi Plt gubernur adalah masa dimana APBD pemprov DKI 2017-2018 dibahas, direncanakan, dan diputuskan.

Dugaan itu semakin diperkuat dengan fakta yang terjadi di lapangan. Djarot yang merupakan sahabat karib Ahok terlihat tidak menemani Ahok ketika proses persidangan. Ia hanya datang ke Lapas Cipinang sebentar menjenguk Ahok setelah sibuk mengurusi surat Plt Gubenur di Kemendagri bersama Tjahjo Kumolo. Djarot dianggap lebih mementingkan kekuasaan daripada musibah yang menimpa teman. Sontak pendukung dan simpatisan Ahok kecewa setelah mendengar kabar itu.

 

Upaya meraih simpati

Percaya atau tidak, setalah terkuaknya strategi PDIP yang sengaja ingin menggulingkan Ahok, PDIP terlihat kalap. Mungkin, karena takut kabar tersebut semakin tersebar luas di telinga masyarakat, Rabu dini hari, sekira pukul 00, 40 WIB, Djarot mendatangi Lapas Cipinang untuk menenangi massa pendukung Ahok yang kabarnya masih berdemo didepan lapas. Selain itu, Djarot juga menandatangani surat jaminan penangguhan penahanan Ahok.

Datang ke lapas pada saat tengah malam/dini hari itulah sebenarnya yang membuat publik semakin curiga. Kemungkinan, datanganya Djarot yang ditemani Prasetyo Edi tersebut sebagai upaya untuk meraih simpati masyarakat. Djarot menandatangani surat jaminan penangguhan penahanan Ahok, untuk membendung isu atau kabar tentang dirinya yang telah dianggap sebagai orang yang lebih mementingkan kekuasaan daripada seorang teman. Begitu kira-kira.

Tak hanya itu, PDIP sebagai partai pengusung Ahok juga menggelar konferensi pers. “Kita tidak bergeser satu jengkal pun untuk mendukung Pak Ahok, walaupun dia dalam keadaan seperti ini,” kata Trimedya Panjaitan, Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP PDIP. Rabu, 10 Mei 2017. Dalam konpers itu juga disampaikan bahwa ada pesan dan perintah dari Megawati. Pesan tersebut yakni “agar kader PDIP tidak gentar mendukung Ahok.”

Mungkin, secara tersirat terlihat PDIP sangat peduli terhadap Ahok. Tapi yang patut dipertanyakan adalah, mengapa PDIP baru menggelar konferensi pers sehari setelah Ahok dibui? Kenapa tidak sehari sebelumnya, di hari saat Ahok divonis hakim dua tahun penjara?. Pertanyaan intinya, “apa jangan-jangan konferensi pers yang digelar PDIP itu sengaja digelar hanya pencitraan, untuk meraih simpati masyarakat setelah strategi menggulingkan Ahok terbongkar dan tersebar?

Related posts

Leave a Reply