Siapa yang Ingin Gulingkan Jokowi

NetizenIndonesia.com, Jakarta – Upaya penggulingan Joko Widodo (Jokowi) dari kursi Presiden Republik Indonesia terus dilancarkan. Strategi yang digunakan cukup menarik. Perhatian publik dialihkan seolah upaya penggulingan tersebut dilancarkan oleh kubu lawan. Prabowo dan barisan pendukungnya selalu dicap sebagai pembangkang, ingin menjatuhkan rezim Jokowi. Bahkan, statement tegas Prabowo mendukung penuh pemerintahan Presiden Jokowi pun seolah tak dihiraukan.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya pelaku dari semua ini? Benarkah ada konspirasi makar oleh kubu Prabowo dkk? Atau justru sebaliknya, upaya penggulingan Jokowi datang dari dalam?

Jika diamati, selama menjabat presiden, Jokowi terlihat jalan sendirian dan tanpa dukungan. Megawati dan PDIP seakan kecewa terhadap Jokowi. Loyalitas Jokowi terhadap PDIP masih dipertanyakan. Statement “Petugas Partai” yang dilontarkan Megawati seolah tak dihiraukan oleh Jokowi. Jokowi yang tak terima disebut sebagai petugas partai hanya memberi jatah 5 menteri kepada PDIP. Jauh berbeda dengan Kabinet Indonesia Bersatu era SBY yang didominasi kader-kader Demokrat.

Selain itu, Budi Gunawan yang merupakan rekomendasi Megawati untuk dijadikan Kapolri juga tak didengarkan oleh Jokowi. Jokowi lebih memilih Tito Karnavian daripada Budi Gunawan. Problem inilah sebenarnya yang melatar belakangi adanya upaya penggulingan Jokowi dari dalam. Bukan dari kubu lawan dan para kroni-kroninya.

Mengemas isu bahwa pelaku makar adalah kelompok Islam seperti FPI dan HTI yang menurutnya didalangi oleh Prabowo, SBY dan para Jenderal Purnawirawan pensiunan seperti Kivlan Zein, Sri Bintang Pamungkas, dan lain-lain. Hanya karena menggelar aksi hingga berjilid-jilid menuntut keadilan hukum, lantas mereka dicap sebagai kelompok yang ingin berbuat makar. Tak tanggung-tanggung, isu makar ini sampai-sampai diinternasionalisasikan. Meminjam mulut “orang asing” untuk membicarakan hal itu. Atas nama investigasi, seolah membongkar kelompok-kelompok yang dituduh makar tersebut.

Tapi faktanya, meski digelar berjilid-jilid dengan nomor cantik, aksi umat Islam berjalan dengan aman, damai, tentram, dan tertib. Tuduhan makar tak satupun terbukti meski telah mengikut sertakan wartawan asing.

Sebaliknya, aksi seribu lilin justru lebih brutal. Teriakan “Huuuuuuu” oleh massa aksi saat Adzan Maghrib berkumandang adalah tindakan yang sangat bahaya. Bisa mengakibatkan konflik SARA yang lebih dahsyat lagi. Untung saja umat Islam cukup dewasa menyikapi hal itu. Puncaknya, Minahasa mengancam akan memisahkan diri dari Indonesia. Jika benar itu dilakukan, maka sungguh tindakan tersebut adalah murni tindakan makar.

Yang perlu diperhatikan adalah, dari sekian daerah yang menggelar aksi seribu lilin, mayoritas daerah tersebut merupakan daerah yang didominasi oleh PDIP. Seperti Minahasa yang ingin referendum, Minahasa adalah sebuah daerah atau kabupaten yang terletak di Sulawesi Utara dengan gubernurnya Olly Dondokambey. Salah satu kader terbaik PDIP. Artinya, pemimpin daerah yang merupakan politisi PDIP seolah membiarkan aksi lilin berlangsung meski aksi tersebut melanggar hukum dan bahkan sampai ingin referendum.

Salain itu, mungkin sebagian masyarakat bertanya, mengapa aksi seribu lilin seolah ada pembiaran oleh aparat keamanan meski banyak melanggar aturan. Berbeda dengan aksi bela Islam yang selalu mendapat pengawalan ketat dan kerap dibubarkan jika sudah memasuki jam 18.00. Namun, yang jarang dan bahkan mungkin tidak pernah dipertanyakan adalah, kemana Jendral Tito Karnavian selama aksi seribu lilin berlangsung? Kenapa Tito tak se eksis ketika aksi bela Islam dulu yang selalu tampil di depan publik?

Ya, lagi-lagi aksi seribu lilin sangat erat kaitannya dengan PDIP dan Megawati. Ingat, di tubuh Polri terdapat dua kekuatan besar dan sangat berpengaruh. Selain Tito, ada juga Budi Gunawan. Petinggi Polri kesayangan Megawati. Jika PDIP tampil, maka itu bukanlah wewenang Tito Karnavian, tapi urusan Budi Gunawan. Maka wajar bila selama aksi seribu lilin, batang hidung Tito tak pernah kelihatan. Sederhananya, yang damai-damai adalah urusan Tito Karnavian, sedang yang rusuh, makar, dan melanggar aturan adalah kerjaan Budi Gunawan. Karena Tito adalah pilihan Jokowi, sedang Budi adalah pilihan Megawati.

Selanjutnya adalah tentang wartawan asing yang beberapa waktu lalu menggemparkan publik terkait isu makar. Allan Nairn adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan Megawati. Dugaan ini bukan lah tanpa alasan. Pasalnya, Allan Nairn hanya muncul di tengah publik ketika Prabowo mencalonkan diri menjadi Presiden pada 2014 lalu dan muncul kembali ketika Prabowo memenangkan Anies-Sandi di Pilkada DKI kemarin. Ia muncul menghebohkan publik dengan sederetan data tentang Prabowo yang terjadi pada tahun 2001. Anehnya, ketika Megawati mencalonkan diri sebagai presiden berpasangan dengan Prabowo pada Pilpres 2004 lalu, Allan Nairn hilang bak ditelan bumi. Ada jeda 13 tahun (2001-2014) Allan Nairn baru buka mulut. Fakta inilah yang semakin memperkuat dugaan bahwa Allan Nairn adalah utusan Megawati. Semacam ada kesengajaan menyuruh Allan berteriak makar untuk memporak porandakan rezim Jokowi. Membuat publik gaduh hingga akhirnya Jokowi jatuh.

Dari penjelasan di atas, sejumlah fakta sudah tersaji. Presiden Jokowi harus lebih peka dan extra hati-hati. Jangan lengah dan jengan termakan isu-isu yang tak jelas asal-usulnya. Teman makan teman bisa saja terjadi. Dan yang perlu diingat adalah, Prabowo telah menyatakan sikap akan bertarung kembali di Pilpres 2019 nanti. Bukan menyatakan ingin menjatuhkan rezim yang sah terpilih melalui proses demokrasi. Jadi siapakah sebenarnya yang selama ini berbuat makar, ingin menggulingkan Jokowi?

Related posts

Leave a Reply