Reklamasi dan Miskinnya Solusi Luhut Tangani Banjir di Jakarta

NetizenIndonesia.com, Jakarta – Terungkap sudah, siapa aktor yang begitu getol mendukung pembangunan Reklamasi Teluk Jakarta. Luhut Binsar Pandjaitan salah satunya. Menteri yang berhasil mengganti posisi Si Rajawali Ngepret Rizal Ramli dari Menteri Koordinator bidang Kemaritiman.

Baru-baru ini, Luhut membuat pernyataan kontroversial. Dia meminta Anies-Sandi bertanggung jawab jika Jakarta banjir karena akan memberhentikan proyek reklamasi. Entah apa yang ada dalam benak Luhut hingga melontarkan pernyataan seperti itu. Menteti Koordinator bidang Kemaritiman kok takut banjir.

Jakarta sudah sangat penuh dan sesak dengan manusia-manusia imigran yang ingin mencari nafkah dan segala macam kepentingannya. Gedung dan bangunan beton sudah banyak berjejer dan mentereng di sepanjang Jakarta. Oleh sebab itu, salah satu cara agar Jakarta tidak banjir adalah dengan menghentikan dan atau minimal mengurangi pembangunan. Bukan malah menambah pembangunan, apalagi reklamasi.

Tidak reklamasi bukanlah alasan Jakarta akan banjir. Banyak cara untuk mengatasi banjir di Jakarta. Selain stop atau mengurangi pembangunan beton, 13 sungai di Jakarta, waduk, danau, dan telaga segera dibenahi dan direvitalisasi.  Pembangunan harus bergeser ke tempat lain. Lagipula, kalau reklamasi tujuannya banjir tak perlu bangun properti tata ruang berkedok tata uang.

Keputusan Presiden (Kepres) 5/1995 telah mengamanatkan bahwa Pemprov DKI Jakarta memiliki hak pemegang reklamasi. Artinya, jika Anies-Sandi selaku gubernur terpilih ingin memberhentikan proyek reklamasi, pemerintah tak usah ikut campur. Taati hukum yang telah berlaku dan disepakati bersama. Jika Ahok ketika menjabat gubernur dulu memiliki hak mengeluarkan izin proyek reklamasi, maka Anies yang akan menjadi gubernur nanti, juga mempunyai hak untuk mencabut izin itu.

Anies-Sandi selalu menggelorakan program DP. 0 untuk rumah di Jakarta, karena mereka sadar kalau warja Jakarta banyak yang tak memiliki rumah dan atau tak mampu membeli rumah karena besarnya DP yang dipatok. Apalagi dengan reklamasi yang harga tanahnya berkisar Rp. 22 juta hingga Rp. 38 juta per meter persegi, akan semakin mustahil warga Jakarta mampu membeli tanah atau rumah di sana. Lantas, untuk siapa sebenarnya reklamasi itu dibangun?

 

Terlepas dari pertanyaan tadi, ditemukan sebuah video iklan promosi reklamasi Jakarta yang beredar di China. Dalam video tersebut, terpampang logo Agung Podomoro Group, foto Adie MS, dan Rifan Lin sebagai pembuka. Apa mungkin video iklan Reklamasi Teluk Jakarta tersebut adalah jawaban dari pertanyaan tadi? Entahlah.

Related posts

Leave a Reply