Selain Chat Mesum, Ini Enam Perkara Pidana yang Membelit Rizieq Shihab

NetizenIndonesia.com, Jakarta – Hingga detik ini, keberadaan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab (HRS) masih menjadi tanda tanya. Namun, berdasarkan informasi yang didapat NetizenIndonesia.com, kabar keberadan HRS masih simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa ia sedang menjalani ibadah umroh. Dan adapula yang mengatakan bahwa HRS beberapa hari lalu sempat pergi ke Malaysia, namun tak lama ia kembali lagi ke Arab Saudi. Entah, ibadah atau kesibukan apa yang dilakukan sang Imam Besar, sehingga ia mangkir dari panggilan polisi dalam kasus dugaan pelanggaran Undang-undang Pornografi lewat pesan WhatsApp dengan wanita yang telah ditetapkan tersangka bernama Firza Husein.

Namun yang perlu diketahui, kasus dugaan pelanggaran UU Pornografi lewat pesan WhatsApp, hanyalah satu di antara sekian bayak perkara pidana yang membelit Sang Imam Besar Front Pembela Islam itu sepanjang tahun 2016-2017. Apa saja kasus tersebut? Berikut rinciannya.

Setidaknya, ada enam elemen masyarakat yang melaporkan HRS ke polisi. Mereka mengadukan HRS terkait dugaan kasus kebhinekaan dan penodaan agama.
Berikut ini daftar laporannya:

  1. Sukmawati Soekarnoputri

Tak terima dengan pernyataan HRS, putri Presiden RI pertama Sukarno, Sukmawati Soekarnoputri melaporkan pentolan FPI itu ke Bareskrim Polri, 27 Oktober 2016. HRS dianggap melecehkan Pancasila dalam ceramahnya di wilayah Jabar. Dalam rekaman itu, Rizieq menyebut “Pancasila Soekarno ketuhanan ada di pantat, sedangkan Pancasila piagam Jakarta ketuhanan ada di kepala.”

Atas laporan tersebut, Polda Jabar memeriksa HRS pada Kamis 12 Januari 2017. Dalam pemeriksaan selama 4,5 jam itu, HRS dicecar 22 pertanyaan oleh penyidik. Usai pemeriksaan, HRS menyatakan tidak melakukan penghinaan dan penodaan terhadap Pancasila. Menurut dia, laporan Sukmawati ialah mempersoalkan tesisnya yang membahas mengenai Pancasila.

HRS mengaku, tesisnya yang berjudul “Pengaruh Pancasila terhadap Syari’at Islam di Indonesia,” berisi kritikan terhadap usulan dari Sukarno. Namun dia membantah apabila disebut telah menghina Pancasila sebagai dasar negara.

  1. Warga Kelapa Gading

Laporan lainnya juga datang dari Khoe Yanti Kusmiran, warga Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ia mengadukan HRS ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Polri pada Senin 16 Januari 2017.

Menurut Yanti, pernyataan HRS yang diduga menistakan agama itu telah diungggah ke situs media sosial YouTube. Pada video tersebut, HRS tampak tengah berbicara di depan massa dan membahas mengenai ucapan selamat Natal.

Dalam video tersebut, pada menit ke-3 perkataan HRS dianggap menistakan agama. HRS mengatakan, “Kalau Tuhan Yesus itu lahir bidannya siapa?” pernytaan inilah yang menyebabkan Yanti melaporkan HRS ke Bareskrim Polri.

  1. Student Peace Institute

Laporan serupa pun juga dilakukan lembaga Student Peace Institute dan Forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama (Rumah PELITA). Koordinator Rumah Pelita, Slamet Abidin menuding ucapan HRS dalam video yang beredar dapat memecah belah kerukunan antaragama di Indonesia.

  1. Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa bernama PMKRI, melaporkan HRS ke Polda Metro Jaya. Mereka melaporkan HRS dengan dugaan penistaan agama.

Tak hanya HRS, dalam laporan yang diterima dengan nomor LP/6344/XII/2016/PMJ/Dit. Reskrimsus itu juga melaporkan Fauzi Ahmad selaku pengunggah penggalan video ceramah HRS di media social Instagram dan Saya Reya, pengunggah video di Twitter.

Ketua Umum PP PMKRI Angelius Wake Kako mengatakan, pelaporan dilakukan terkait isi ceramah Rizieq Shihab di Pondok Kelapa, Jakarta Timur pada 25 Desember 2016 dianggap menistakan agama. Pernyataan itu pun dianggap melukai hati pemeluk agama tertentu.

  1. Hansip

Lagi-lagi ucapan HRS dipermasalahkan. Sebuah ucapan yang direkam dan disebarkan melalui situs berbagi video, YouTube, itu pun berujung pada pelaporan kepolisian.

Seorang warga bernama Eddy Soetono (62) melaporkan HRS ke Polda Metro Jaya atas tuduhan menyebarkan kebencian berbau SARA melalui media elektronik. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/193/I/2017/PMJ/ Dit.Reskrimsus tertanggal 12 Januari 2017.

Dalam laporan itu, HRS dianggap melanggar Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

  1. Rumah Pelita

Lagid an lagi Imam besar Front Pembela Islam (FPI) dilaporkan ke Mapolda Metro Jaya atas tudingan dugaan menyebarkan kebencian berbau SARA dan penodaan agama. HRS tak sendiri. Akun Twitter @sayareya juga kembali dilaporkan dengan kasus yang sama.

Laporan yang dilayangkan oleh Forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama (Rumah Pelita) itu diterima polisi dengan nomor LP/6422/XII/PMJ/Dit. Reskrimsus tertanggal 30 Desember 2016.

Dalam laporan tersebut, HRS dan Akun @sayareya dianggap melanggar Pasal 156 dan 156a KUHP Jo Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45 ayat 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Itulah enam kasus hukum dan kriminal yang melilit Imam Besar Front Pembela Islam Habis Rizieq Syihab sepanjang tahun 2016 hingga 2017 yang berhasil NetizenIdonesia.com rangkum. Setibanya di Indonesia, HRS harus bersiap-siap menjalani proses hukum dari semua perkara pidana yang menimpanya.

Related posts

Leave a Reply