Ini Bahaya Penerapan Presidential Threshold

NetizenIndonesia.com, Jakarta – Usulan akan memberlakukan ambang batas pada pencalonan presiden (Presidential Threshold) yang diusulkan DPR untuk pemilu 2019 sangat tidak masuk akal. Alasan yang selalu mereka teriakkan adalah kekhawatiran akan munculnya banyak calon presiden (Capres). Kekhawatiran inilah yang dimaksud tak masuk akal.

Pasalnya, tiap partai politik (Parpol) tentu akan sadar diri. Masing-masing parpol tidak akan serta merta mengusung kadernya sebelum mengetahui tingkat popularitas dan elektabilitas calon tersebut. Jika calon yang akan diusung memiliki elektabilitas rendah, tentu parpol tersebut tidak akan berani mengusung. Karena itu hanya sia-sia dan buang-buang energi saja. Partol tersebut akan lebih memilih berkoalisi dengan partai lain yang memiliki calon dengan elektabilitas yang memadai.

Memaksakan menerapkan presidential threshold adalah tindakan yang mencederai asas demokrasi. Sebuah negara yang menganut sistem demokrasi, umumnya memiliki dua dimensi, yakni Kontestasi dan partisipasi.

Aspek kontestasi merujuk pada mereka atau parpol-parpol yang ngotot ingin menerapkan presidential threshold. Secara tidak langsung parpol tersebut tidak memiliki nyali untuk bertarung atau berkontestasi dengan parpol lain dalam pemilihan presiden 2019 nanti. Parpol tersebut hanya ingin mengusung calonnya sendiri dengan cara mengekang hak parpol lain yang juga ingin mengusung calonnya. Maka tidak ada kata lain yang pantas disematkan pada mereka selain kata “pengecut” dan “pecundang.”

Sedangkan untuk aspek partisipasi merujuk pada pemilih. Jika tanpa presidential threshold, rakyat akan bebas memilih calon atau kandidat yang menurut mereka pantas untuk dipilih. Selain itu, rakyat juga banyak memiliki alternaitf sesuai yang mereka inginkan.

Sebaliknya, jika presidential threshold diterapkan, maka hak rakyat untuk memilih seakan dikekang. Rakyat dipaksa disuruh memilih calon si A, padahal calon yang mereka inginkan adalah si B. Maka yang terjadi, rakyat akan tidak puas dengan pilihan mereka masing-masing karena pilihan calon yang tersedia tak sesuai selera. Puncaknya, tidak tertutup kemungkinan mereka akan malas untuk memilih alias golput. Ini yang paling bahaya bagi demokrasi kita.

Related posts

Leave a Reply