Fanatisme Pendukung dan Fenomena Politikus Tanah Air

NetizenIndonesia.com – Tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanya kepentingan adalah sebuah istilah yang umum digunakan dalam dunia politik. Terlalu membenci dan terlalu mencintai dan mengagumi adalah hal yang dilarang keras dalam dunia politik. Pun dengan yang gagal move on. Jangan terlalu lama memendam rasa sakit dan perih akibat kekalahan dukungannya, karena fakta menunjukkan justru orang yang didukung lebih dulu move on dengan lawan politiknya. Para pendukugnya saja yang kekanak-kanakan, terjerembab dalam fanatisme politik.

Oleh sebabnya itu, mendukung adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah, mendukung dengan menyangkut pautkan dukungannya dengan urusan lain sehingga mengakibatkan permusuhan yang akut. Si A dihina kaum bumi datar dan sumbu pendek. Si B dihujat kaum serbet. Sementara orang yang didukung dari masing-masing kelompok tersebut tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan para pendukungnya yang saling bersitegang. Sungguh fenomena lucu dalam perpolitikan Indonesia saat ini.

Padahal, fenomena “tak ada kawan dan lawan dalam politik” sangat jelas dipertontonkan para politisi tanah air sejak dulu. Lihat bagaimana sepak terjang Amien Rais, seorang yang dijuluki sebagai “Tokoh Reformis” pada masa pergolakan tahun 1998. Ya, seorang Amien Rais. Ia adalah seorang guru besar ilmu politik, karena itu seharusnya memiliki idealisme sebagai ilmuwan.

Sayangnya, dalam perjalanan kiprahnya sebagai politisi, kemampuan ilmunya tidak berbanding lurus dengan praktek politiknya. Lihatlah bagaimana ia dengan kemampuan melakukan akrobatik politik menggalang “Poros Tengah” mengusung Abdurahman Wahid, Gus Dur, sebagai Presiden RI, tahun 1999, tapi kemudian dengan lihainya dalam selang waktu lebih kurang dua tahun, ia hempaskan Gus Dur, kemudian mendukung dan memilih Megawati Soekarnoputri sebagai Presdiden RI, menggantikan Gus Dur.

Begitu pula dengan perannya di era Pilpres tahun 2009, ketika Prabowo Soebianto berpasangan dengan Megawati, dan ketika itu PAN yang dipimpin oleh Soetrisno Bachir, memberikan dukungan kepada Pasangan Megawati dan Prabowo, malah seorang Amien Rais, tidak mendukungnya. Apa kata Amien Rais kepada Soetrisno? Dengan entengnya ia berkata “mengapa engkau memberi dukungan kepada menantu dari orang yang melalui perjuangan reformasi saya jatuhkan?”. Tapi apa yang terjadi? Bisa dilihat dulu ketika Pilpres 2014, sikap seorang Amien Rais dengan berbusa-busa berpidato menyatakan dukungannya kepada Prabowo-Hatta.

Contoh lain adalah Susilo Bambang Yudhoyono SBY. Ketika era Megawati ia menjadi Menteri. Kemudian menjadi calon presiden (capres) berpasangan dengan JK melawan Megawati-Hasyim Muzadi (Allahummaghfirlahu) pada Pilpres 2004. Di Pilpres 2009, JK yang sudah lima tahun mesra dengan SBY, maju sebagai capres berpasangan dengan Wiranto melawan SBY-Boediono dan Megawati-Prabowo.

Masih mesra dengan Megawati, Prabowo mengusung Jokowi-Ahok di Pilkada Jakarta tahun 2012 lalu. Muncullah seorang Fadli Zon yang menjadi juru bicaranya. Kini Fadli Zon seakan menjadi musuh bebuyutan Jokowi dan Ahok, padahal dulu pernah menjadi juru kampanyenya. Begitu juga dengan Megawati dan Prabowo. Setelah pada Pilpres 2009 bermesraan, di Pilpres 2014 kemarin seolah menjadi musuh bebuyutan. Megawati mengusung Jokowi-JK melawan Prabowo-Hatta Rajasa.

Sama halnya dengan PKS. Era SBY, PKS menjadi partai koalisi pemerintah, sangat bertolak belakang dengan Gerindra yang menjadi partai opisi Bersama PDIP. Tapi sekarang kedua partai tersebut begitu mesra layaknya sepasang kekasih. Fadli Zon dan Fahri Hamzah pun layaknya Rome dan Juliet. Dimana ada Gerindra, di situ ada PKS. Pun sebaliknya.

Contoh terakhir adalah Anies Baswedan. Di Pilpres 2014 ia menjadi juru kampanye Jokowi-JK, kemudian diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tak lama, Anies dipecat oleh Jokowi. Sebelumnya, Anies menjadi peserta konvensi Partai Demokrat namun akhirnya kalah dengan Dahlan Iskan.Setelah dipecat dari menteri, Anies mencalonkan diri menjadi gubernur DKI berpasangan dengan Sandiaga Uno yang kemudian berhasil menang setelah mengalahkan Ahok-Djarot.

Begitulah potret politik Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Jadi, untuk masyarakat, para pendukung politisi dan partai apapun, jadilah pendukung cerdas, pintar, dan dewasa dalam berpolitik. Dan yang terpenting adalah, hindari fanatisme politik dalam mendukung salah satu pasangan calon.

Related posts

Leave a Reply