Membongkar Skenario Nasdem Manfaatkan Kasus Korupsi Untuk Meraih Kekuasaan

NetizenIndonesia.com – Partai Nasional Demokrat (Nasdem) terbilang hampir tidak memiliki kader yang sukses menjadi pemimpin di berbagai daerah di Indonesia. Baik Bupati, Wali Kota, hingga Gubernur. Pola strateginya pun selalu sama dalam setiap menjelang pemilu. Jika ada tokoh potensial non partai, tanpa berpikir panjang, Nasdem langsung melamar orang tersebut dan mendeklarasikan diri sebagai partai pengusung. Semacam krisis elektabilitas lalu numpang popularitas.

Miskinnya kader yang menjadi pemimpin di berbagai daerah membuat Nasdem melancarkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Tak hanya numpang popularitas, Nasdem juga kerap memanfaatkan kasus-kasus korupsi kader partai lain. Dugaan ini bukanlah tanpa alasan. Sederetan fakta kasus-kasus korupsi yang menjerat para pemimpin daerah, kemudian dimanfaatkan oleh kader Nasdem banyak bertebaran.

Berikut kader Nasdem di berbagai daerah yang memanfaatkan kasus korupsi untuk meraih kekuasaan.

 

  1. Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Gatot Pujo Nugroho.

Siapa yang tak ingat dengan hebohnya kasus korupsi mantan pemimpin Sumut yang beristri dua itu. Kasus korupsi yang banyak menjerat tokoh politikus tersebut, sempat membuat publik geger. Namun, di balik itu semua, terdapat fenomena mengganjal yang patut dicurigai. Fenomena tersebut yakni tentang perseteruan antara Gatot dan Wakil Gubernurnya Teuki Erry Nuradi. Fenomena lain yang patut dicurigai adalah terkait loncatnya Teuku Erry dari Golkar ke Partai Nasdem.

Dari fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa Nasdem yang menurut Ridwan Kamil memiliki Kejaksaan, seolah sengaja menggoreng kasus korupsi dana Bansos Sumut, hingga Gatot jatuh dan tersungkur dari kursi Gubernur Sumut. Setelah sukses melengserkan Gatot, Nasdem memanfaatkan situasi. Diangkatlah Teuku  Erry menjadi gubernur menggantikan Gatot.

Lantas, apa hubungannya dengan kabar mendadak loncatnya Teuku Erry dari Golkar ke Nasdem? Ya, tak ada jabatan yang gratis. Fenomena loncatnya Erry ke Nasdem seolah direncanakan sejak awal. Kejaksaan akan menggoreng kasus Gatot Pujo Nugroho hingaa mengantarkannya ke penjara, dengan syarat Teuku Erry Nuradi harus pindah ke Partai Nasdem. Begitu kira-kira.

 

  1. Bupati Sedenreng Rappang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rusdi Masse

Rusdi Masse awalnya sebagai kader Golkar, namun tiba-tiba pindah ke Partai Nasdem. Sebelumnya, tahun 2012, Rusdi Masse terjerat kasus korupsi dana Bansos yang diduga merugikan negara sebesar Rp. 4, 32 miliar dari total anggaran Rp. 7 milliar. Kasus tersebut dilaporkan ke Kajati pada tahun 2014, namun hingga kini tak jelas tindak-tanduknya.

Pertanyaannya, mengapa setelah Rusdi Masse pindah ke Nasdem, tiba-tiba kasusnya mendadak sepi bak ditelan bumi? Bagaimana kelanjutannya? Ya, pola yang dipakai Nasdem hampir sama. Nasdem, melalui Kajati yang notabene bawahan HM. Prasetyo, seolah membuat kesepakatan. Jika tak mau kasus dugaan korupsi dana Bansos yang menjerat Rusdi Masse diusut dan digoreng, ia harus pindah partai. Dari Golkar ke Nasdem. Sukseslah misi tersebut.

 

  1. Bupati Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sukri Sappewali

Sukri Suppewali awalnya sebagai kader Gerindra, namun tiba-tiba ia pindah ke partai Nasdem. Sebelumnya, Sukri terjerat kasus korupsi dana intensif PBB sebesar Rp. 1, 750 miliar. Kasus tersebut dilaporkan ke Kajati oleh Lembaga Study Hukum dan Advokasi Rakyat (Laskar), namun lagi-lagi kasus tersebut tak ada kabarnya hingga saat ini.

Mendadak pindahnya Supri dari Gerindra ke Nasdem itulah yang semakin menguatkan kecurigaan masyarakat, mengapa kasus korupsi dana intensif PBB yang merugikan negara hingga miliaran rupiah tersebut tidak diusut oleh Kajati.

 

 4. Wakil Bupati Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel) Suardi Saleh

Suardi Saleh adalah birokrat murni yang mendadak menjadi politisi dari Partai Nasdem setelah mendapat warisan jabatan dari Bupati sebelumnya Andi Idris Syukur, yang divonis 4, 5 tahun penjara karena kasus pemerasan dan tindak pencucian uang.

Pola ini sama dengan pola yang dilancarkan kepada Gatot Pujo Nugroho. Nasdem seakan sengaja ingin melengserkan Idris Syukur dengan kesepakatan, Suardi Saleh yang murni birokrat harus pindah ke Partai Nasdem. Tak tangggung-tanggung, Suardi Saleh digadang-gadangkan akan dijadikan Ketua DPD Nasdem Kabupaten Barru.

 

  1. Wakil Bupati Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), Harmil Mattotorang

Selain menjabat sebagai Wakil Bupati, Harmil Mattotorang merupakan kader Golkar yang kemudian pindah ke Partai Nasdem.

Harmil berhasil menggeser posisi Hatta Rahman sebagai bupati, setelah Hatta ditetapkan sebagai tersangka karena kasus korupsi sejumlah proyek, termasuk proyek pengadaan lampu jalan di Kabupaten Maros. Setelah sukses menjabat gubernur, Harmil yang awalnya sebagai kader Golkar, tiba-tiba pindah ke Partai Nasdem. Bahkan, kini ia menjadi Ketua DPD Nasdem Kabupaten Maros. Sungguh, sebuah loncatan yang penuh dengan kecurigaan.

Itulah sederetan fakta yang semakin memperkuat dugaan, bahwa Nasdem menunggangi dan memanfaatkan kasus korupsi para pemimpin daerah di sejumlah wilayah di Indonesia. Nasdem yang krisis kader, mencuri kader partai lain dengan cara menggoreng kasus-kasus korupsi mereka. Nasdem telah menomorduakan keadilan hukum di negeri ini. Mereka memanfaatkan jabatan Jaksa Agung yang diemban HM Prasetyo hanya untuk meraih kekuasaan.

Related posts

One thought on “Membongkar Skenario Nasdem Manfaatkan Kasus Korupsi Untuk Meraih Kekuasaan

  1. […] Baca: Membongkar Skenario Nasdem Manfaatkan Kasus Korupsi Untuk Meraih Kekuasaan […]

Leave a Reply