Tak Mau Cabut Banding, Jaksa Jadi pengacara Ahok?

JAKARTA – Aneh bin ajaib!, mungkin kata itu yang pantas disematkan pada sinetron dagelan yang dilakukan oleh pihak kejaksaan dalam kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Bagaimana tidak, pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) masih saja meneruskan permohonan banding atas putusan perkara No.1537/PidB/2016/PNJK tersebut, meski pihak terdakwa sendiri telah mencabut pengajuan banding dan menerima vonis hakim pengadilan Jakarta Utara tersebut.

Sikap yang telah ditunjukkan oleh Jaksa ini aneh dan juga patut untuk dipertanyakan. Terlebih lagi jika motivasi yang telah diperjuangkan ini adalah untuk memaksakan tuntutan ini dikabulkan oleh majelis hakim.

Padahal seperti diketahui, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara telah memvonis terdakwa dengan hukuman dua tahun penjara atau lebih berat dari tuntutan JPU yang meminta hakim memberikan hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun karena Ahok disebut tidak terbukti menodai agama.

Berbagai keanehan memang kerap dilakukan jaksa selama persidangan. Diawali dengan ketidakkonsistenan jaksa, saat menyerahkan berkas perkara ke pengadilan, Kejaksaan hanya membutuhkan waktu hitungan jam. Ini berarti Jaksa sangat yakin dengan materi tuntutan mereka.

Namun, dalam perjalanannya, jaksa sempat meminta agar majelis hakim menunda pembacaan tuntutan dengan alasan waktu yang diberikan untuk menyusun tuntuttan tidak cukup. Meski permintaan ini akhirnya dikabulkan, namun banyak pihak mempertanyakannya.

Keanehan lainnya yaitu saat JPU menghadirkan banyak saksi dan para ahli di persidangan, dan dari keterangan saksi dapat disimpulkan semuanya menyampaikan kalau Ahok telah melakukan penistaan agama tidak saja satu kali, tapi sudah beberapa kali. Tapi dari tuntutan yang disampaikan JPU memperlihatkan kalau mereka sendiri yang menganulir keterangan para saksi. Jika memang tidak dipakai keterangan saksi dan ahli, kenapa mereka dihadirkan.

Berbagai keanehan ini berlanjut hingga saat ini, padahal jika jaksa mencabut bandingnya, vonis terhadap Ahok itu akan inkracht dan Ahok resmi menjadi narapidana.

Untuk itu, ada baiknya jaksa ikut menghormati putusan yang sudah dikeluarkan oleh majelis hakim tersebut. Ditambah lagi terpidana pada saat ini sudah mencabut banding yang telah disampaikannya.

Sikap jaksa yang terus menghadirkan berbagai keanhean dan pertanyaan di masyarakat ini justru menimbulkan pertanyaan baru, apakah jaksa juga berperan sebagai pengacara Ahok dalam kasus ini?

Related posts

Leave a Reply