Kiai NU Pilih Gus Ipul Jadi Cagub Jatim, Cak Imin: Maafkan Saya Kakak

NetizenIndonesia.com – Sejumlah kiai NU (Nahdlatul Ulama) Jawa Timur menginginkan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjadi calon Gubernur Jawa Timur di Pilgub 2018 mendatang yang akan diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dukungan ini sebagai bentuk saran kiai NU kepada PKB.

Sebelumnya, dalam beberapa bulan terakhir, PKB terlihat begitu ambisi ingin mengusung Halim Iskandar yang merupakan kakak kandung dari Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar.

Promosi dan blusukan pun dilancarkan dari jauh-jauh hari. Bahkan, tak jarang stiker dan poster bertebaran saat acara-acara NU digelar. Salah satu contoh adalah, pada Maret 2016 lalu, ketika Muslimat NU menggelar acara peringatan hari lahir (harlah) di Stadion Gajayana, Kota Malang, poster dan stiker terpampang foto Halim Iskandar dengan tulisan “Holopis Kuntul Baris,” banyak bertebaran di tangan peserta harlah, di tribun penonton, dan di sudut-sudut lapangan stadion.

Namun, upaya promosi dan blusukan yang dilancarkan para tim pemenangan Halim Iskandar dari jauh-jauh dari itu, tampaknya kini sia-sia. Kiai-kiai NU lebih memilih dan sepakat mengusung Gus Ipul di Pilgub Jatim. Harapan Cak Imin (sapaan akrab Muhaimin Iskandar) pun akhirnya musnah.

Ya, Cak Imin memang harus lebih memilih keputusan dan pilihan para kiai-kiai NU Jawa Timur. Jangan hanya karena Halim Iskandar merupakan kakak kandungnya, lantas ia mengesampingkan keputusan para kiai NU. Akibatnya bisa fatal. Sebab, pilihan seorang kiai tidak semata-mata diputuskan begitu saja. Sudah barang tentu melalui perjuangan dan pertimbangan yang sangat matang. Bahkan, tak jarang seorang kiai shalat istikharah (shalat meminta petunjuk) terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan dan memberi keputusan.

Demi NU, Cak Imi harus membuang jauh-jauh sikap oligarki dan menang sendiri. Cak Imin juga harus menerima kenyataan bahwa sang kakak memang memiliki elektabilitas yang sangat rendah bila dibanding Gus Ipul dan Khofifah yang juga merupakan kader NU. Jika dipaksakan, sudah pasti akan berakibat fatal. NU akan memperpanjang nasibnya setelah bertahun-tahun menderita karena tak memiliki gubernur NU di kandang sendiri.

Tak lupa pula, Cak Imin juga harus meminta maaf kepada sang kakak karena lebih memilih tunduk kepada kiai NU daripada tunduk kepada ambisi kekuasaan sang kakak.

Related posts

Leave a Reply