Pilgub Jatim dan Tragedi Pembangkangan Muhaimin Iskandar Terhadap Kiai NU

 

NetizenIndonesia.com, – Sepak terjang Muhaimin Iskandar terbilang cerdik. Namun tak sedikit yang menganggap bahwa manuver politik seorang yang akrab disapa Cak Imin tersebut, adalah licik. Sudah banyak korban berjatuhan akibat keserakahan politik Muhaimin. Si Raja Dangdut Rhoma Irama dan Mahfud MD adalah salah dua buktinya.

Ya, sebelum Pilpres tahun 2014 lalu, Muhaimin kerap mensosialisasikan Rhoma Irama sebagai calon presiden yang akan diusung PKB. Janji manis pun diumbar kepada Rhoma. Tak tanggung-tanggung, poster-poster dan spanduk terpampang foto Rhoma Irama dengan tulisan “Ksatria Bergitar” pun bertebaran di seluruh pelosok daerah. Ya, PKB adalah “partainya kstaria bergitar,” katanya.

Tapi apa yang terjadi? Setelah puas menunggangi popularitas seorang Rhoma Irama dan Mahfud MD, Muhaimin tiba-tiba membelot dan memilih merapat ke koalisi Jokowi-JK. Itulah Muhaimin yang dikenal masyarakat sebagai politikus yang tidak konsisten.

Jauh sebelum pilpres 2014, masih segar dalam ingatan publik tentang tragedi pembangkangan dan pengkhianatan  Muhaimin Iskandar terhadap almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Entah, apa yang ada dalam benak Muhaimin. Hanya karena jabatan dan kekuasaan, ia sampai rela berkhianat dan menentang Gus Dur. Padahal, Gus Dur lah yang telah mendidik dan mengajarkan dia tentang politik saat setelah dirinya lengser dari Ketua Umum PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Itulah track record hitam Muhaimin Iskandar dalam dunia politik. Namun, dalam beberapa hari terakhir, kabar tentang Muhaimin dan PKB kembali santer dibicarakan publik. Kabar tersebut yakni tentang pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur pada 2018 mandatang.

Muhaimin Iskandar sedang dirundung dilema, gelisah, galau dan merana. Pasalnya, kakak kandung-nya lah taruhannya. Ya, beberapa waktu lalu, kiai-kiai NU sepakat akan mengusung Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai calon gubernur Jatim melalui PKB.

Padahal, dari jauh-jauh hari Muhaimin telah melakukan sosialisasi ke berbagai daerah di Jawa Timur. Memperkenalkan dan mempromosikan sang kakak agar mendapat simpati dari masyarakat. Namun ternyata harapan tak sesuai kenyataan. Kiai-kiai NU Jawa Timur lebih memilih Gus Ipul dibanding kakak kandung Muhaimin yang dalam setiap survei elektabilitasnya sangat menyedihkan itu.

Berdasarkan pengakuan Muhaimin, setelah kiai-Kiai NU sepakat akan mengusung Gus Ipul di Pilgub Jatim, Muhaimin akan patuh terhadap keputusan tersebut. Bahkan, dalam waktu dekat PKB akan mendaklarasikan Gus Ipul sebagai calon gubernur Jatim. Bukan Halim Iskandar.

Namun, jika melihat track record Muhaimin yang sejak dulu kerap tidak konsisten, membelot, dan pernah melakukan pengkhianatan terhadap cucu pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari, tidak tertutup kemungkinan ia akan mengulangi perbuatannya kembali. Muhaimin akan melawan kiai NU karena telah memilih Gus Ipul daripada sang kakak.

Logika sederhananya, cucu pendiri KH. Hasyim Asy’ari saja dilawan oleh Muhaimin, apalagi kiai NU Jawa Timur yang secara genetik saja tak ada hubungannya dengan Mbah Hasyim. Maka kemungkinan besar Muhaimin akan tetap kekeuh mengusung sang kakak di Pilgub Jatim nanti. Prediksi ini bukan lah tanpa alasan mengingat perjuangan Muhaimin beserta para tim pemenangan dalam mensosialisasikan Halim Iskandar, bukan lah waktu yang sebentar. Banyak tenaga maupun materi yang telah dikeluarkan sejak awal tahun 2016 lalu.

Related posts

Leave a Reply