Tak Cabut Banding Vonis Ahok, Jaksa Agung Maju Kena Mundur Kena

NetizenIndonesia.com – Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok beberapa waktu lalu telah mencabut permohonan banding atas vonis dua tahun penjara yang diputuskan hakim terhadap dirinya dalam kasus penistaan agama.

Langkah pencabutan permohonan banding Ahok tersebut sebenarnya terdapat untung dan rugi. Ada pihak-pihak yang diuntungkan, namun ada pula pihak yang sangat dirugikan bahkan berakhir dengan menjadi bahan tertawaan. Siapakah masing-masing pihak tersebut? Berikut penjelasannya.

Pihak yang untung dengan pencabutan permohonan banding Ahok secara umum adalah masyarakat Indonesia. Langkah itu akan membuat rekonsiliasi antara pendukung Ahok dengan yang kontra Ahok lebih cepat terjadi. Bagi pendukung dan simpatisan Ahok yang belum bisa Move-On akan termotivasi untuk segera Move On, karena melihat Ahok yang mencabut bandingnya secara tidak langsung dia telah mengakui kesalahannya. Secara keseluruhan, Indonesia yang untung.

Lalu siapa atau pihak mana yang rugi? Jelas yang rugi pertama adalah Pengacaranya Ahok. Kontraknya sudah selesai sampai. Selain itu, pihak yang dirugikan adalah mereka yang merupakan Pendukung Ahok Palsu.  Mereka ikut-ikutan mendukung Ahok, heboh dan rempong menggelar aksi solidaritas dan lain sebagainya, tapi sebenarnya mereka punya Hidden Agenda (misi terselubung) yang akan “diledakkan” pada waktunya.

Percayalah, tidak semua pihak yang menyuarakan Aksi Solidaritas Dukungan untuk Ahok itu benar-benar temannya Ahok. Patut Diduga, Ada yang Kebakaran Jenggot dengan langkah Ahok mencabut Gugatan Bandingnya. Siapa itu? Jawabannya adalah Jaksa Agung.

Jaksa Agung seperti sedang Makan Buah Simalakama atau sedang kena Jebakan Batman. Sejak awal semua orang yang bukan pendukung Ahok baik pendukung Anies, pendukung Rizieq, maupun seluruh masyarakat netral sudah melihat dengan jelas bagaimana  Jaksa Penuntut bermain-main dalam Proses Sidang Kasus Ahok.

Bagaimana ceritanya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) tiba-tiba meminta penundaan waktu pembacaan penuntutan dengan alasan berkas tuntutan belum selesai diketik. Bagaimana ceritanya, Jaksa tiba-tiba menghilangkan salah satu Pasal Dakwaan dan menuntuk Ahok seringan mungkin?

Belum selesai kelucuannya, ketika  Majelis Hakim Pengadilan Negeri memvonis Ahok 2 tahun penjara, ternyata Jaksa Penuntut lewat Kejaksaan Agung langsung mengumumkan ikut banding seperti halnya pengacara Ahok. Orang-orang jadi bingung. Ini Jaksa dan Kejaksaan Agung kok bisa error begitu?  Vonis Hakim lebih tinggi dari tuntutan Jaksa, kok malah ajukan banding? Mungkin ini adalah pertama kali dalam sejarah.

Alasan yang kerap diteriakkan Jaksa Agung dalam mengajukan banding adalah, untuk memperkuat pendapat hukum pihak Jaksa yang sangat yakin bahwa Pasal yang dilanggar Terdakwa hanyalah Pasal 156, tetapi Hakim memutus Terdakwa melanggar Pasal 156A.  Sungguh, alasan yang sangat memilukan sekaligus memalukan.

Esensi Jaksa adalah mewakili Negara untuk memberikan Keadilan bagi Masyarakat Pelapor. Jaksa menuntut terdakwa itu benar. Tetapi jika Jaksa menuntut Hakim (untuk banding), itu sama saja Negara menuntut Negara.

Posisi Jaksa Agung saat ini jadi serba salah.  Mau cabut memori banding seperti yang dilakukan Ahok atau pengacaranya, sudah pasti mereka bingung alasan apa yang akan dipakai? Sementara jika tidak dicabut, malah menjadi dagelan hukum masa kini, karena sebelumnya telah kekekuh menyatakan Ahok tidak bersalah. Akhirnya, Jaksa Agung kena jebakan Bat Man. Maju kena mundur pun kena.

Vonis lebih berat dari tuntutan, tapi Jaksanya yang banding sementara Terdakwanya tidak. Patut ditertawakan melihat kondisi Jaksa Agung yang awalnya terlihat ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya membuat dirinya kelabakan dan kebingungan.

Related posts

Leave a Reply