Klarifikasi Terkait Akun Facebooknya yang Mendadak Hilang, Afi Nihaya Faradisa Berbohong?

NetizenIndonesia.com – Asa Firda Inayah atau biasa dikenal Afi Nihaya Faradisa, siswi SMA yang mendadak tenar karena tulisannya soal toleransi kerapkali menjadi viral di media sosial. Remaja asal Gambiran, Banyuwangi itu pun mendapat banyak pujian karena tulisan di Facebooknya yang insipratif. Namun, tak sedikit pula masyarakat yang mencibir Afi karena beberapa waktu lalu, salah satu tulisannya diketahui menjiplak tulisan orang lain.

Setelah diketahui melakukan plagiasi, Sabtu, 3 Juni 2017, Afi memberikan klarifikasi terkait tuduhan plagiasi pada salah satu tulisannya yang berjudul “Belas Kasih Dalam Agama Kita”  tersebut.

Namun, ada yang mengejutkan dengan pernyataan Afi. Jika membaca klarifikasinya, ia terlihat tidak secara tegas mengaku bahwa dirinya bersalah karena telah melakukan plagiat. Ia hanya mengatakan, bahwa sejatinya semua orang pernah melakukan plagiasi bahkan mulai dari tugas sekolah sejak SD, makalah kuliah, ujian, hingga caption foto di media sosial.

Afi juga menambahkan, “Kalaupun kita mengklaim punya hak cipta atas suatu gagasan yang brilian, maka gagasan tersebut tetaplah akumulasi dari segala hal yang berhasil kita serap sehari-hari. Tak ada gagasan yang benar-benar murni, asli,” katanya.

Yang mengejutkan adalah, dia mengaku sengaja menutup akunnya selama satu hari karena tidak tahan melihat orang tuanya bersedih karena melihat anaknya diserang gara-gara melakukan plagiat.

Aku tahan jika pun diserang habis-habisan, tapi aku tak tahan melihat orangtuaku bersedih karena hal itu. Maka, aku sempat menutup akun ini selama sehari, kata Afi.

Berikut klarifikasi lengkap Afi dalam akun facebooknya berdasarkan penelusuran NetizenIndonesia.com.

“Ayah tahu kamu hanya berusaha untuk melakukan banyak hal pada orang lain, seperti nama yang ayah berikan padamu: inayah”, begitulah ayahku memulai percakapan kemarin.
“Tapi jika kamu malah menerima ‘kehancuran’ sebagai balasan atas semua hal yang selama ini sudah kamu lakukan, maka berhentilah. Biarkan saja. Apa yang bisa kamu harapkan lagi ketika ketulusan dan kepedulianmu ramai-ramai diludahi?”

Seketika tangisku pecah.
Aku sendiri tahan dibully dan dicaci maki, tapi ketika orangtuaku mengetahuinya, mereka adalah orang pertama yang paling terluka.
Seperti ayahku, mungkin aku juga sama seandainya aku sudah jadi seorang ibu. Kurasa semua orang tua juga begitu. Maka, aku bersumpah takkan melakukan sesuatu pada anak orang lain jika aku sendiri tidak mau hal itu terjadi pada anakku.

Hanya orangtuaku, hanya mereka lah yang tetap menyayangiku entah aku menulis atau tidak, entah aku pintar atau bodoh, entah aku sempurna atau cacat.
Aku tahan jika pun diserang habis-habisan, tapi aku tak tahan melihat orang tuaku bersedih karena hal itu. Maka, aku sempat menutup akun ini selama sehari.

Apakah aku pernah melakukan plagiasi? Ya.
Kita semua pernah. Siapa yang tidak pernah melakukannya? Mulai dari tugas sekolah sejak SD, makalah kuliah, ujian, sampai caption foto di media sosial. Kalaupun kita mengklaim punya hak cipta atas suatu gagasan yang brilian, maka gagasan tersebut tetaplah akumulasi dari segala hal yang berhasil kita serap sehari-hari.
Tak ada gagasan yang benar-benar murni, asli.

Kebetulan saja hanya aku yang tersorot, karena WARISAN sangat viral. Media serta orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenalku sama sekali secara tiba-tiba memuji dan memaki, mengagumi dan membenci.
Mereka mulai menelisik segala hal tentang gadis 18 tahun ini, mencari dengan sedetil-detilnya apa yang ada di sana.
Aku tahu, terhadap WARISAN, begitu banyak orang yang tidak sepaham. Akunku sempat mati karena dilaporkan massal, pemiliknya pun diancam akan dimatikan.
Akhirnya sekarang mereka menemukan amunisi yang tepat untuk melampiaskan kebencian, untuk menghujamku dalam-dalam.

Tanpa mengesampingkan apa-apa, SATU kelemahan yang tidak menyakiti siapapun kemudian menjadi masalah besar yang lebih penting untuk diurusi daripada memperbaiki hidup mereka sendiri.

Tapi, terlepas dari semuanya, Afi tetaplah Afi, anak yang sudah menulis diary sejak SD, menulis artikel dan berbicara di depan publik sejak SMP, dan tidak hanya suka membaca buku-buku pelajaran saja.
Aku bisa kehilangan apapun, tapi aku tidak akan pernah kehilangan diriku.

Orang-orang yang mengikuti akunku sejak lama pasti tahu, aku hanya mencoba melakukan segala hal yang bisa kulakukan untuk berkontribusi bagi negara ini.
Melalui pena dan sosial media, aku hanya berharap bisa memberikan manfaat bagi pembaca, bagi Anda semua.

I’m sorry, I’m not perfect.
And I will never be.

Untuk alamat lengkapnya, silahkan klik di sini

Sebelumnya, Kamis, 1 Mei 2017, beberapa menit sebelum Afi mengikuti prosesi upacara peringatan Hari Pancasila di Gedung Pancasila, Kantor Kementerian Luar Negeri, Afi diwawancarai live oleh kompas tv.

Berikut video wawancara lengkapnya.

Video wawancara di atas seperti ada yang mengganjal. Ketika ditanya oleh Bayu (Moderator) tentang dugaan plagiarisme dalam tulisannya, Afi mengaku bahwa dalam beberapa hari terakhir hingga detik itu, dia belum sempat membuka akun media sosialnya termasuk “facebook.”

Pada titik inilah pengakuan Afi sangat tidak konsisten dan bahkan jauh berbeda dengan klarifikasi yang ia tulis dalam akun facebooknya. Entah, dia berbohong atau berusaha mencari simpati masyarakat dengan cara ngeles. Di kompas tv mengatakan belum sempat membuka akun facebooknya, tapi di akun facebooknya ia mengaku sengaja menutup akunnya dalam jangka waktu satu hari. Entahlah.

Related posts

Leave a Reply