Buwas Sibuk Berantas Narkoba, Novel Baswedan Sibuk Berantas Korupsi, HM Prasetyo Sibuk Sebar Fitnah

NetizenIndonesia.com – Keberadaan penguasa rezim saat ini terlihat beragam. Ada penguasa yang terlena sehingga membuat mereka leluasa. Amanah yang mereka emban membuat mereka nyaman. Tak peduli apa yang yang terjadi, hal terpenting bagi mereka adalah, jabatan tetap aman terkendali. Namun adapula penguasa yang benar-benar menjalankan tugasnya. Ia tidak terombang-ambing oleh nafsu bejat yang membuat mereka serakah akan kekuasaan.

Rakyat patut mengapresiasi mereka yang benar-benar menjalankan tugasnya atas amanah yang mereka emban. Namun, rakyat juga patut mengutuk mereka-mereka yang semena-mena dalam menggunakan kekuasaan.

Siapakah yang patut diapresiasi? Dialah Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komandan Jendral (Komjen) Budi Waseso alias Buwas. Spirit Buwas dalam memberantas narkoba di pelosok-pelosok daerah cukup mengagumkan. Di tengah maraknya peredaran narkoba di Indonesia, Buwas berada di garda terdepan untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba.

Tak tanggung-tanggung, sepanjang 2015-2016, di bawah kepemimpinan Komjen Budi Waseso, BNN telah berhasil mengungkap aktivitas 72 jaringan sindikan narkotika di seluruh tanah air.

Selain itu, BNN juga telah mengungkap 1.015 kasus narkotika dari 72 jaringan sindikat tersebut. Pengungkapan hingga Juni 2016 itu dilakukan oleh BNN pusat maupun BNN Provinsi. Capaian itu menjadi catatan prestasi Komjen Buwas dan jajarannya di BBN Pusat dan daerah. Dari keseluruhan kasus tersebut, BNN telah menjerat 1.681 orang tersangka warga negara Indonesia maupun warga negara asing.

Tak hanya itu, BNN juga telah berhasil mengungkap tindak pidana pencucian uang yang berasal dari kejahatan narkotika dengan nilai aset yang disita sebesar Rp 142 miliar lebih. Sedangkan alat bukti yang disita dalam satu setengah tahun terakhir, antara lain 2,8 ton sabu-sabu, 707.864 butir pil ekstasi, 4,1 ton ganja kering, dan lahan ganja seluas 69 hektare.

Yang terbaru, BNN berhasil menggerebek bandar narkoba jaringan Internasional di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Dalam penggrebekan tersebut, 62 orang berhasil diringkus dan 1, 3 Ton narkoba berhasil diamankan.

Itulah prestasi BNN selama ini sejak berada di bawah pimpinan Buwas. Tugas dari jabatan yang ia emban, benar-benar ia jaga dan jalankan. Satu hal yang selalu menjadi prinsip Buwas. Generasi muda selamat dari bahaya narkoba. Sungguh prestasi yang sangat luar biasa.

Selain Budi Waseso, rakyat juga jangan melupakan jasa dan kontribusi Novel Baswedan bagi bangsa ini. Novel Baswedan adalah satu di antara banyak tokoh Indonesia yang sangat tegas dalam memberantas korupsi yang telah menjamur di negeri antah berantah ini.

Semua orang, bisa saja mempertanyakan apa hebatnya Novel Baswedan. Namun bagi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, para pegawai Komisi Antirasuah itu, juga para wartawan melihat realitas Novel Baswedan sebagai penyidik dengan rekam jejak jempolan. Pria kelahiran Semarang, 38 tahun ini, adalah penyidik yang telah menangani dan membongkar kasus-kasus besar.

Kasus demi kasus berhasil diungkap. Sehingga operasi tangkap tangan, penyadapan, dan penangkapan nama besar menjadi momok menakutkan bagi para koruptor negeri ini.

Saat menjabat sebagai penyidik KPK, Novel Baswedan dipercaya masuk tim yang mengungkap kasus besar. Pada 2009, Novel memimpin penyergapan terhadap Bupati Buol yang terjerat kasus dugaan suap proses perizinan kebun sawit.

Novel sempat diserang kelompok pendukung Amran saat memimpin operasi penangkapan. Sepeda motor yang ia kendarai ditabrak mobil yang mengawal Amran, hingga ringsek

Namun Novel tak surut. Tangan dinginnya, bersama-sama seluruh elemen KPK, terus membongkar kasus demi kasus.

Selanjutnya, Novel ikut andil dalam mengungkap kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin. Ia diduga menggelapkan dana. Skandal yang terjadi pada 2011 itu menggembosi partai penguasa kala itu, Demokrat.

Selain itu, Novel ikut pula menangani salah satu skandal dalam tubuh penegakan hukum di Indonesia, yakni kasus suap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar. Akil terlibat suap perkara sengketa pilkada di beberapa daerah sepanjang tahun 2011 hingga 2012. Nilai suap dalam kasus tersebut Rp 58 triliun.

Saat ini, Novel sedang menjabat sebagai Kepala Satuan Tugas kasus e-KTP. Perkara korupsi pengadaan KTP elektronik pada tahun anggaran 2011 itu diduga merugikan negara Rp 2,3 triliun. Tidak hanya kerugian negara yang besar, kasus tersebut juga mencatut beberapa nama besar, mayoritas adalah pejabat legislatif dan eksekutif.

Namun, upaya Novel dalam menyelamatkan uang negara triliunan rupiah dan membersihkan tikus-tikus berdasi, membuatnya disiram air keras. Ia diserang dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor usai shalat subuh di masjid dekat rumahnya.

Itulah prestasi menganggumkan dari seorang Novel Baswedan. Ancaman demi ancaman yang menghampirinya, tak membuatnya surut dalam menjaga amanah rakyat.

Namun sayang seribu sayang, pimpinan institusi negara yang penuh dengan prestasi gemilang seperti Budi Waseso dan Novel tak membuat penguasa rezim saat ini berbenah dan termotivasi. Ada saja penguasa yang tak becus dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Mereka pongah dengan jabatan yang mereka emban. Rakyat dinomorduakan, sedang kelompoknya dibela mati-matian. Dialah HM Prasetyo, pimpinan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung).

Di saat pimpinan institusi negara lain sibuk dengan tugasnya masing-masing, Prasetyo justru sibuk melancarkan fitnah serapah. Buwas sibuk memberantas narkoba, Novel sibuk dengan penyidikan kasus korupsi e-KTP, eh, si Prasetyo malah disibukkan dengan urusan fitnah-memfitnah.

Di saat pimpinan institusi negara lain sibuk dengan tugasnya masing-masing, Prasetyo justru sibuk melancarkan fitnah serapah. Buwas sibuk memberantas narkoba, Novel sibuk dengan penyidikan kasus korupsi e-KTP, eh, si Prasetyo malah disibukkan dengan urusan fitnah-memfitnah.

Related posts

Leave a Reply