Jaksa Agung HM Prasetyo dan “Anak Minta Jabatan”

NetizenIndonesia.com – Lagi-lagi HM Prasetyo membuat geger masyarakat dengan perilaku tidak terpujinya sebagai Jaksa Agung. Dia menyalah gunakan jabatan demi meraih kepentingan pribadinya (Nepotisme).

Bagaimana tidak membuat geger? Setelah beberapa waktu lalu, anaknya yang juga merupakan seorang Jaksa, Bayu Adhinugroho Arianto tiba-tiba naik jabatan secara drastis menjadi Koordinator Intel di Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta tanpa mengikuti prosedur yang ada, HM Prasetyo kembali membuat ulah dengan menaikkan jabatan anaknya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari), Gianyar, Bali.

Sekilas tentang lompatan kilat jabatan putra HM Prasetyo ketika dipromosikan menjadi Koordinator Intel di Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor Kep-IV-360/C/05/2015.

Banyak kejanggalan dalam pengangkatan jabatan putranya tersebut. Salah satunya dibuktikan dengan golongan yang disandang Bayu, dari golongan III/D lompat menjadi III/B. Padahal, kenaikan pangkat dari golongan III/D atau Jaksa Muda menjadi golongan III/B atau Ajun Jaksa, harus disertakan dengan sertifikasi Diklatpim tingkat III serta adanya prestasi luar biasa yang dilakukan oleh Bayu.

Lalu, gebrakan dan prestasi apa yang diraih Bayu hingga bisa menjadi Koordinator Intel di Kejati Jakarta? Bahkan menurut berita yang beredar, Bayu belum memiliki sertifikasi Diklatpim tingkat III.

Baru setahun menjabat sebagai Koordinator Intel di Kejati Jakarta, Prasetyo kembali mempromosikan anaknya menjadi Kajari, Gianyar, Bali.

Jabatan koordinator jaksa yang baru setahun itu patut dipertanyakan, terkait apa yang sudah dilakukan. Pasalnya, tidak ada kasus sedang dan besar yang ditangani anak Jaksa Agung tersebut atau setidaknya dua tahun menjadi koordinator.

Bila pernah menangani kasus sedang dan besar, tentu pengalamannya cukup mumpuni. Namun kondisi berbeda, anak Jaksa Agung itu malah mejadi Kejari.

Ini merupakan contoh buruk untuk jaksa. Jaksa-jaksa berprestasi lainnya tentu harus disingkirkan dengan memberi karpet merah pada anak Jaksa Agung. Ini menjatuhkan mental jaksa-jaksa baik dan berprestasi di berbagai daerah.

HM Prasetyo telah merusak tatanan jenjang karir yang ada dalam internal Kejaksaan. Selain itu, hal ini semakin membuka mata masyarakat betapa bobroknya instansti Kejaksaan Agung, dimana seharusnya lembaga tersebut menjadi lembaga penegak hukum di negeri ini, justru faktanya malah Jaksa Agung sendiri yang melanggar hukum dengan melakukan Nepotisme.

Related posts

Leave a Reply