Hary Tanoe Dikriminalisasi karena Dianggap Berbahaya di Pilkada Serentak 2018?

NetizenIndonesia.com – Zaman kriminalisasi adalah zaman dimana lawan politik rezim saat ini dibabat habis satu persatu. Yang terbaru adalah Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoeosedibjo (Hary Tanoe).

Pertanyaannya, kenapa HT dikriminalisasi? Banyak orang menilai bahwa hal tersebut merupakan ajang balas dendam pasca Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Betul, bahwa Hary Tanoe sangat berpengaruh dalam memenangkan pasangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI kemarin. Kader-kader Partai Perindo beserta sayapnya diterjunkan. Mereka serentak terjun ke masyarakat, mengajak masyarakat bersatu memilih pasangan Anies-Sandi.

Tak tanggung-tanggung, bukan hanya kader Perindo yang terjun, Hary Tanoe pun ikut turun gunung, ia menyusuri pelosok-pelosok dan gang-gang di berbagai daerah di Jakarta.

Hary Tanoe dan Partai Perindo benar-benar menunjukkan komitmennya dalam mendukung pasangan Anies-Sandi. Akhirnya, berkat jerih payah dan perjuangannya tersebut, Anies-Sandi berhasil menduduki kursi DKI 1, menumbangkan pasangan Ahok-Djarot.

Maka sangatlah wajar bila masyarakat menilai, bahwa tindakan kriminalisasi penguasa terhadap Hary Tanoe merupakan ajang balas dendam. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penguasa saat ini cenderung berpihak kepada Ahok-Djarot.

Padahal hemat saya jauh lebih dari itu. Jika diamati, di Pilkada serentak kemarin, Hary Tanoe tidak hanya berkecimpung di pilkada DKI Jakarta, banyak calon-calon kepala daerah yang didukung Partai Perindo. Seperti pasangan calon (paslon) Wahidin-Andika di Pilgub Banten, paslon Ali-Enny di Pilgub Sulawesi Barat, Cabup-Cawabup Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, Nurhidayah-Ahmadi, dan banyak calon kepala daerah lainnya.

Hebatnya, dari sekian banyak calon kepala daerah yang didukung Partai Perindo, mayoritas mereka berhasil memenangkan pesta demokrasi di pilkada serentak kemarin.

Jadi kurang tepat jika banyak pengamat berpendapat bahwa tindakan kriminalisasi penguasa terhadap Hary Tanoe disebabkan karena Pilkada DKI. Kontestasi politik DKI hanyalah satu di antara banyak kontestasi yang berhasil dimenangkan Hary Tanoe di berbagai daerah di Indonesia dalam pilkada serentak kemarin.

Oleh sebab itu. Hary Tanoe dianggap berbahaya pada Pilkada 2018 mendatang dan bahkan di Pilpres 2019 nanti. Peta perpolitikan akan berubah drastis dan bahkan amburadul jika Perindo ikut andil meramaikan pilkada serentak nanti. Partai-partai lawas akan kewalahan melawan perindo mengingat elektabilitas Perindo kian hari kian melesat.

Related posts

Leave a Reply