Ini Jawaban Mengapa Hary Tanoe Terus Digempur Penguasa

NetizenIndonesia.com – Dalam beberapa hari terakhir, gelombang serangan tak henti-hentinya menerpa Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo.  Mulai dari pemberhentian tayangan Mars Perindo, Mobile 8 yang terjadi pada tahun 2007 diungkit kembali meski telah menang praperadilan dan terbukti tidak bersalah, hingga soal SMS ajakan pemberantasan (pembersihan) oknum-oknum penegak hukum yang transaksional, tidak professional, dan abuse of power yang dituduh mengancam.

Pertanyaannya, mengapa mereka sedemikian membabibutanya menyerang Hary Tanoe?

Pertama, ada dendam kesumat dari lawan-lawan politik Hary Tanoe. Sebagaimana diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono. Bahwa kriminalisasi terhadap Hary Tanoe belakangan ini erat kaitannya dengan momentum Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

Kita tahu betapa besarnya peran Hary Tanoe atas kemenangan pasangan Anies-Sandi di pilkada DKI kemarin. Tanpa tedeng aling-aling, Hary Tanoe bersama partai Perindo berada di garda terdepan mengawal kemenangan Anies-Sandi.

Oleh karena komitmen Hary Tanoe dalam mengantarkan Anies meraih kursi DKI 1 itulah, lawan politik Hary Tanoe mulai gerah. Apalagi perkembangan Partai Perindo semakin pesat, tentu akan membuat mereka semakin mantab untuk menghabisi Hary Tanoe. Maka dilancarkan lah serangan demi serangan sebagaimana belakangan ini.

Kedua, terkait Presidential Threshold (PT) atau ambang batas pada Pemilu 2019 mendatang. Pemerintah saat ini begitu ngotot mengusulkanambang batas pencapresan pemilu 2019 hingga 20-25%. Namun hingga kini pembahasan PT di DPR masih mengalami deadlock.Jika saja usulan ini goal, maka calon presiden hanya akan muncul dari partai-partai besar saja. Partai kecil dan partai baru terancam tidak bisa mengirimkan kadernya untuk dicalonkan menjadi presiden maupun wakil presiden.

Lalu, apa hubungannya Presidential Threshold dengan Hary Tanoe?

Perlu diketahui, elektabilitas Hary Tanoe dalam beberapa hari terakhir terus meroket. Bahkan, hasil survey terakhir Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), menempatkan nama Hary Tanoe bertengger di peringkat 4. Menyalip tokoh-tokoh politik lawas semisal Surya Paloh, Wiranto, Megawati, Gatot Nurmantyo, Abu Rizal Bakrie dan lain sebagainya. Tingginya elektabilitas dan popularitas Hary Tanoe inilah yang membuat mereka, lawan-lawan politinya, merasa terancam.

Puncaknya, mereka khawatir jika pada Pilpres 2019 nanti, Prabowo berpasangan dengan Hary Tanoe. Ini akan membuat kliyengan mereka. Peta perpolitikan drastis akan berubah total. Selain itu, Jokowi juga akan kebingunan mencari wakilnya.

Hitung-hitungannya begini. 3 nama yang elektabilitasnya juga tinggi yang berada di atas Hary Tanoe adalah Jokowi, Prabowo, dan SBY, barulah nama Hary Tanoe muncul. Jika Prabowo berpasangan dengan Hary Tanoe, maka ini akan menjadi kekuatan besar.

Sedangkan SBY sudah tidak bisa mencalonkan lagi, namun sepertinya ia sedang mengandalkan anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono. Tapi sayang elektabilitasnya jauh bahkan tidak sampai 10 besar.

Itulah jawaban mengapa akhir-akhir ini Hary Tanoe terus digempur dengan berbagai macam upaya. Mereka tidak mau bersaing secara sehat dalam berpolitik ketika berhadapan dengan Hary Tanoe. Mereka ingin cara instan, menghabisi dan menjatuhkan Hary Tanoe dengan memanfaatkan kekuasaan.

Related posts

One thought on “Ini Jawaban Mengapa Hary Tanoe Terus Digempur Penguasa

  1. Ahaaaaa itu sudah pasti. Pasyi karna hari tanoe dan media yg d bawah kekuasaannya kemarin menggempur jokowi dan ahok kan?. Bener gak?

Leave a Reply