Key Highlights
- Hasto Kristiyanto menyoroti melemahnya spirit Konferensi Asia-Afrika di Indonesia.
- Indonesia dinilai gamang dalam membela bangsa-bangsa yang tertindas di kancah global.
- Pentingnya refleksi dan kembali pada prinsip politik luar negeri bebas aktif yang digariskan para pendiri bangsa.
Kritik Hasto: Indonesia Kehilangan Jiwa Konferensi Asia-Afrika
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, baru-baru ini melontarkan pernyataan yang cukup menggelitik nurani kebangsaan. Ia menilai bahwa Indonesia saat ini sedang kehilangan spirit atau jiwa dari Konferensi Asia-Afrika (KAA). Lebih jauh, Hasto menggarisbawahi bahwa kondisi ini membuat Indonesia menjadi 'gamang' atau ragu-ragu dalam memperjuangkan nasib bangsa-bangsa yang tertindas di berbagai belahan dunia.
Pernyataan ini bukan sekadar kritik biasa, melainkan sebuah refleksi mendalam terhadap arah politik luar negeri Indonesia. KAA, yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955, adalah tonggak sejarah penting bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Acara tersebut melahirkan Dasasila Bandung, prinsip-prinsip fundamental yang menyerukan perdamaian, kerja sama, kedaulatan, dan penolakan terhadap kolonialisme dalam segala bentuknya. Indonesia, melalui proklamatornya, Soekarno, adalah salah satu arsitek utama gerakan ini, memimpin semangat solidaritas antara negara-negara Dunia Ketiga.
Mengapa Spirit KAA Penting bagi Indonesia?
Spirit KAA bukan hanya tentang nostalgia masa lalu, melainkan fondasi kokoh bagi identitas dan politik luar negeri Indonesia. Prinsip-prinsip anti-kolonialisme dan dukungan terhadap kemerdekaan adalah bagian tak terpisahkan dari Pembukaan UUD 1945, yang dengan tegas menyatakan bahwa 'kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan'.
Hasto berpendapat, ketika spirit ini luntur, Indonesia seolah kehilangan kompas moralnya di tengah hiruk pikuk geopolitik global. Padahal, posisi Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar dan negara demokrasi ketiga di dunia memberikan bobot moral yang signifikan dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa tertindas, seperti Palestina.
Tantangan Geopolitik Global dan Posisi Indonesia
Dunia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks, mulai dari konflik regional, krisis kemanusiaan, hingga ketidaksetaraan ekonomi global. Dalam konteks ini, suara Indonesia sangat dinantikan. Keterlibatan aktif Indonesia dalam forum internasional dan keberpihakannya pada nilai-nilai kemanusiaan universal adalah manifestasi dari politik luar negeri 'bebas aktif'. Namun, jika 'gamang' menghinggapi, dikhawatirkan Indonesia akan kehilangan relevansi dan kredibilitasnya sebagai pemain global yang berprinsip.
Membangkitkan Kembali Solidaritas Global untuk Kemanusiaan
Pernyataan Hasto seharusnya menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan otokritik dan evaluasi. Bagaimana Indonesia dapat mengembalikan semangat Bandung, tidak hanya dalam retorika tetapi juga dalam tindakan nyata? Ini bukan hanya tentang diplomasi politik, tetapi juga tentang penguatan kapasitas dalam negeri untuk bisa berbicara lebih lantang di kancah internasional. Di tengah dinamika ekonomi global, negara-negara berkembang perlu bersatu untuk menghadapi tantangan seperti regulasi perdagangan dan perpajakan lintas batas. Isu seperti penerapan pajak toko online yang akan berlaku di Indonesia pada pertengahan 2026 juga mencerminkan upaya pemerintah dalam mengatur ekonomi digital agar lebih berpihak pada keadilan dan kemandirian bangsa.
Peran Indonesia di Mata Dunia: Antara Ideal dan Realita
Indonesia memiliki warisan sejarah yang kaya dalam memperjuangkan perdamaian dunia. Dari Konferensi Asia-Afrika hingga Gerakan Non-Blok, peran Indonesia selalu menonjol. Namun, di era modern ini, dengan berbagai tekanan dan kepentingan, menjaga konsistensi idealismenya menjadi sebuah tantangan. Mengembalikan spirit KAA berarti Indonesia harus kembali berani berdiri di garis depan membela kebenaran dan keadilan, tanpa rasa takut atau ragu-ragu, sesuai dengan amanat konstitusi dan nilai-nilai Pancasila.
FAQ
Apa itu Konferensi Asia-Afrika (KAA) dan mengapa penting bagi Indonesia?
Konferensi Asia-Afrika (KAA) adalah pertemuan bersejarah negara-negara Asia dan Afrika yang diadakan di Bandung, Indonesia, pada tahun 1955. KAA menjadi tonggak bagi gerakan non-blok dan menyuarakan solidaritas antar negara berkembang melawan kolonialisme dan imperialisme. Bagi Indonesia, KAA sangat penting karena menegaskan peran kepemimpinan Indonesia di kancah internasional, menjadi fondasi bagi politik luar negeri bebas aktif, dan menguatkan prinsip-prinsip kemerdekaan serta keadilan sosial global.
Apa yang dimaksud Hasto dengan Indonesia "gamang" memperjuangkan bangsa tertindas?
Hasto Kristiyanto mengartikan "gamang" sebagai keraguan atau ketidakberanian Indonesia untuk mengambil sikap tegas dan aktif dalam membela hak-hak bangsa-bangsa yang tertindas atau menghadapi ketidakadilan di tingkat global. Hal ini menunjukkan kekhawatiran bahwa Indonesia mungkin telah kehilangan sebagian dari spirit keberanian dan idealisme yang menjadi ciri khas politik luar negerinya di masa lalu, terutama semangat KAA yang kuat dalam mendukung kemerdekaan dan keadilan bagi semua bangsa.