Anak bukan tahanan

waktu baca 3 menit
Sabtu, 12 Nov 2022 11:58 0 23 RestiAR

    Strict parents atau dalam bahasa Indonesia berarti orang tua yang kaku adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan sikap orang tua yang mengekang, mengatur dan menuntut anaknya. Biasanya, mereka menuntut anaknya untuk selalu menuruti semua perkataannya, tak jarang juga yang menuntut anaknya untuk meraih prestasi. Itu semua membuat anaknya merasa tertekan. Anak strict parents juga cenderung kurang pergaulan karena mereka dibatasi untuk keluar rumah. Banyak dari mereka yang memilih berbohong agar mereka bisa tetap bermain dengan teman-temannya dengan alasan kerja kelompok agar diizinkan.

Peranan orang tua dalam mendidik anaknya memanglah penting. Namun, masih dalam batas wajar. Jika anak terus menerus dilarang untuk keluar rumah maka anak itu akan susah untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, itu akan mempengaruhi sikap sosial seorang anak. Bisa jadi, anak justru depresi karena tekanan yang diberikan oleh orang tua. Banyak siswa-siswi korban bullying yang ternyata mereka adalah anak strict parents. Karena keterbatasan pergaulan, di sekolah mereka tidak memiliki banyak teman, teman memang tidak terlalu penting ba

gi anak strict parents, yang mereka pikirkan hanyalah prestasi. Itu dilakukan bukan karena keinginannya, melainkan keinginan orang tuanya yang memaksa anaknya untuk meraih sebuah prestasi. Untuk sekedar menikmati masa sekolahnya saja seolah tidak bisa, jangankan bermain, prestasinya turun saja mereka akan langsung dimarahi, dihukum, dan tidak diperbolehkan berhenti belajar sehari pun. Mereka memang membutuhkan bimbingan, tetapi orang tua juga harus pandai dalam membimbing anaknya.

Jadilah orang tua yang mampu berperan sebagai teman sekaligus orang tua bagi anak-anaknya. Ajari setiap kali mereka tidak mengerti, bukan malah menuntut mereka untuk mengerti dengan sendirinya. Dengarkan keluh kesah mereka, berikan solusi. Berikan larangan sewajarnya saja. Dengan begitu, mereka akan menurut dengan sendirinya, tanpa paksaan dan tanpa kebohongan. Bebaskan mereka, selama itu tidak membahayakan diri mereka. Tetap mengawasi pergaulannya dengan cara menjadi teman mereka.

Ingatlah, mereka adalah anak kalian, bukan musuh ataupun tahanan. Jadilah orang tua yang bijak dalam mendidik anak. Bukan orang tua yang egois, yang hanya memikirkan kesenangannya tanpa melihat kondisi fisik maupun mental anaknya. Membentuk karakter yang baik pada diri memang sangatlah diperlukan, apa lagi pada zaman sekarang ini. Banyak kasus remaja yang hamil di luar nikah, minum-minuman keras, suka membolos dan terpengaruh pada pergaulan bebas. Pasti ketakutan akan itu yang membuat orang tua bersikap mengatur dan mengekang anaknya. Namun, jika hanya sekedar bermain bersama teman sekolah untuk mengistirahatkan otak bukanlah hal yang salah. Wajar saja jika anak ingin beristirahat sebentar setelah 5 hari bahkan 6 hari merekan belajar di sekolah dan di rumah. Orang tua hanya perlu memberikan arahan pada anak agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Misalnya, mengizinkan anak bermain tapi dengan syarat tidak pulang malam. Berlibur dengan tempat tujuan yang jelas dan bersama siapa mereka berlibur harus jelas. Dengan begitu, anak tidak terjerumus pada pergaulan bebas, tetapi mereka tetap bisa bermain dan belajar dengan bebas.
Jangan membuat anak tidak menemukan tempat ternyamannya, jika di sekolah mereka sudah pusing dengan pelajaran dan segala macam tugas, maka setidaknya di rumah mereka bisa merasakan kenyamanan untuk merebahkan tubuh serta otaknya. Mungkin mereka memang tidak pernah mengeluh keberatan dengan tuntutan dari orang tuanya, tapi percayalah, sebenarnya mereka merasa lelah.

RestiAR

Resti atika ramadani. Penulis amatir yang lahir di kota Tegal pada tanggal 29 Oktober 2022. Memiliki hobi membaca dan menulis Novel.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *